Cerpen Islami
“Bidadariku,
Sahabatku”
Aku terhenyak dari lamunan panjangku. Ku dengar
suara lembut nan merdunya mengagetkan ku yang sedang menerawang jauh. Sebuah suara
yang sangat ku kenal siapa pemiliknya. Dia Afifa Fitiya. Sahabatku sejak aku
duduk di bangku SMA. Aku sangat dekat dengannya, dan hanya aku satu-satunya
lelaki yang dekat dengannya. Dia seorang gadis yang sangat baik dan sholehah. Jilbabnya
panjang, salah satu hal yang ku sukai darinya.
Aku, Farid Atallah. Anak sulung dari dua
bersaudara. Status ku sebagai mahasiswa di salah satu Universitas Islam di kota
ku.
Selain Afifa, aku juga punya sahabat perempuan yang
lain. Namanya Aulia Arkarna. Dia juga gadis yang baik dan sholehah. Kedua gadis
ini adalah orang yang sangat dekat denganku, setelah Ibu ku. Tapi jangan di
sangka karena mereka sahabatku, lantas aku selalu menempelkan diri pada mereka.?
Itu salah besar! Dekat disini dalam artian aku dan
kedua gadis itu merupakan insan yang bisa saling mengerti, percaya, dan saling
mendukung satu sama lain. Di kampus, kami biasanya hanya bertemu apabila salah
satu di antara kami meminta bantuan untuk mengerjakan tugas kuliah. Kami tau
arti pembatasan diri.
Namun akhir-akhir ini, fikiran dan angan ini
sering mengarah pada Afifa, gadis manis dengan dua buah lesung pipit di pipinya.
Entah sejak kapan. Padahal selama ini, aku memperlakukan kedua gadis itu layaknya
sebagai sahabat sendiri. Setelah aku berusaha mencari jawaban atas semua
perasaan aneh yang ku rasakan, akhirnya tak bisa ku pungkiri, bahwa aku mulai
mencintai Afifa. Apa alasannya? Kenapa bukan Aulia yang aku sukai? Bukankah dia
juga sahabatku? Mungkin karena jilbab Afifa lebih panjang dari jilbab yang
dikenakan Aulia? Atau mungkin, Afifa gadis yang lebih periang dari pada Aulia?
Tidak bermaksud ingin membanding-bandingkan. Aku memang
suka melihat Afifa dengan segala keceriaannya. Saat ada masalah pun, ia tetap
saja ceria. Sedangkan Aulia, ia cenderung pada tipe gadis yang pendiam dan
kadang acuh tak acuh pada orang yang tidak di kenalnya. Saat sedang ada
masalah, ia lebih suka menyendiri. Tapi ada satu hal yang aku suka dari Aulia,
dia tegas.
Jujur saja, teman-teman kampus banyak yang bilang
padaku, bahwa Aulia menyukai ku. Tapi aku menganggapnya hanya gurauan belaka. Saat
itu, tak pernah terlintas di fikiranku untuk memikirkan hal seperti itu. Dan memang,
saat kami bertiga sedang berkumpul untuk mengerjakan tugas kuliah, aku merasa
perlakuan Aulia terhadapku memang agak berbeda di bandingkan dengan Afifa. Ia lebih
banyak memperhatikan aku dari pada Afifa.
Apa aku mulai mencintai keduanya? Entahlah. Aku bingung.
Aku tidak tau. Dan aku tidak ingin hanya karena perasaan ini, persahabatan kami
bertiga menjadi hancur. Tidak mudah mendapatkan sahabat yang baik dan manis
seperti Afifa dan Aulia.
Tapi yang tak pernah ku duga dan tidak pernah sama
sekali melintas di fikiranku adalah malam itu, Afifa mengirim pesan singkat (sms)
padaku. Pesan itu berbunyi:
“Assalamu’alaikum yang entah sedang
apa disana... Sebelum kamu baca pesan ini, izinkan aku untuk meminta maaf yang
sebesar-besarnya padamu, sahabatku. Sungguh bagiku ini adalah suatu kenaifan
yang sangat memalukan bagi seorang gadis yang sudah bersahabat sejak lama
dengan seorang lelaki yang akhir-akhir ini sudah mulai mengusik hati dan
fikirannya.”
Deg! Belum selesai aku membaca pesannya, tapi
otakku berputar dengan cepat. Apa maksud dari pesan Afifa? Lelaki yang sudah
mulai mengusik fikirannya? Aku kah orangnya? Aku melanjutkan membaca pesan itu
sampai habis.
“Sudah cukup lama aku memendamnya. Tapi
rasanya sudah tidak bisa ku diamkan lagi perasaan ini. Tidak perlu ku jelaskan
apa maksudku. Aku tau kamu pasti mengerti.Wassalamu’alaikum.”
Aku bahagia membaca pesan itu. Pesan yang menjawab
pertanyaan ku selama ini. Sebuah jawaban yang mengarah kepada cinta yang tak
bertepuk sebelah tangan. Aku tersenyum melihat pesan itu dan membacanya
berulang kali. Afifa memang gadis yang ceria. Tapi kalau sudah berurusan dengan
masalah hati, ia sangat pemalu. Mustahil baginya untuk mengungkapkannya di
hadapanku.
Aulia? Dia lebih cenderung berani berusaha
memperlihatkan rasa sukanya padaku melalui perlakuan dan sikapnya secara
langsung. Namun tetap saja, dia juga tidak mungkin mengungkapkannya lewat
kata-kata langsung di depanku.
Afifa sudah memberi lampu hijau padaku, bagaimana
dengan Aulia? Gadis manis itu apa akan kecewa nantinya setelah tau kalau Afifa juga
menyimpan sebuah perasaan padaku? Itu lah yang aku takutkan. Entah bagaimana
caraku menjelaskan pada keduanya. Aku tidak ingin terjadi konflik di antara
kami.
Aghh..! Kepala ku pusing! Apa yang harus ku
lakukan? Haruskah aku memilih keduanya? Jelas tidak mungkin. Atau aku pilih
Afifa saja? Pasti Aulia kecewa. Mungkin aku memilih Aulia saja? Tapi sudah
pasti Afifa juga akan kecewa dan sedih.
Jadi apa pilihan yang terbaik? Aku pun menyerahkan
semuanya pada Allah Swt sembari meminta petunjuk dari-Nya. Aku harus bisa
mempertahankan persahabatan ini tanpa harus mencampur adukkan masalah hati dan
perasaan cinta di dalamnya. Tidak. Tidak akan kubiarkan persahabatan ini luntur
hanya karena rasa keegoisan. Tidak akan!
Akhirnya, ku ajak mereka berdua bicara apa adanya
dan ku minta pada mereka untuk berkata yang sejujur-jujurnya tentang perasaan
mereka padaku. Mereka mengakui. Aku juga mengakui. Ku ungkapkan pada mereka,
bahwa aku tidak bisa memilih keduanya, sebab aku tidak mau terjadi sebuah
konflik di antara kita bertiga.
Sejenak, mereka berdua berfikir. Dengan perasaan
tegang aku menunggu apa jawaban dari mereka. Ternyata, mereka setuju dengan
pendapatku. Mereka juga memilih mempertahankan persahabatan ini dan melupakan
perasaan cinta itu.
Mereka bilang, mungkin ini hanya perasaan cinta
yang sementara, dan sebentar saja bisa dilupakan. Sedangkan persahabatan, akan
tetap ada sampai nafas sudah tak berhembus lagi. Tidak ada yang marah di antara
mereka. Kami bahkan malah tertawa setelah mendengar pengakuan dari perasaan kami
masing-masing. Mereka berdua memang bidadari-bidadari ku yang sangat
pengertian.
Selesai :-)
Karya: Devi Sarwani
@Fb: Ukhti Vivie @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan
membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara