Rabu, 15 Oktober 2014

Cerpen Islami



Cerpen Islami
 “Bidadariku, Sahabatku”

     Aku terhenyak dari lamunan panjangku. Ku dengar suara lembut nan merdunya mengagetkan ku yang sedang menerawang jauh. Sebuah suara yang sangat ku kenal siapa pemiliknya. Dia Afifa Fitiya. Sahabatku sejak aku duduk di bangku SMA. Aku sangat dekat dengannya, dan hanya aku satu-satunya lelaki yang dekat dengannya. Dia seorang gadis yang sangat baik dan sholehah. Jilbabnya panjang, salah satu hal yang ku sukai darinya.

     Aku, Farid Atallah. Anak sulung dari dua bersaudara. Status ku sebagai mahasiswa di salah satu Universitas Islam di kota ku. 

     Selain Afifa, aku juga punya sahabat perempuan yang lain. Namanya Aulia Arkarna. Dia juga gadis yang baik dan sholehah. Kedua gadis ini adalah orang yang sangat dekat denganku, setelah Ibu ku. Tapi jangan di sangka karena mereka sahabatku, lantas aku selalu menempelkan diri pada mereka.? 

     Itu salah besar! Dekat disini dalam artian aku dan kedua gadis itu merupakan insan yang bisa saling mengerti, percaya, dan saling mendukung satu sama lain. Di kampus, kami biasanya hanya bertemu apabila salah satu di antara kami meminta bantuan untuk mengerjakan tugas kuliah. Kami tau arti pembatasan diri. 

     Namun akhir-akhir ini, fikiran dan angan ini sering mengarah pada Afifa, gadis manis dengan dua buah lesung pipit di pipinya. Entah sejak kapan. Padahal selama ini, aku memperlakukan kedua gadis itu layaknya sebagai sahabat sendiri. Setelah aku berusaha mencari jawaban atas semua perasaan aneh yang ku rasakan, akhirnya tak bisa ku pungkiri, bahwa aku mulai mencintai Afifa. Apa alasannya? Kenapa bukan Aulia yang aku sukai? Bukankah dia juga sahabatku? Mungkin karena jilbab Afifa lebih panjang dari jilbab yang dikenakan Aulia? Atau mungkin, Afifa gadis yang lebih periang dari pada Aulia?

     Tidak bermaksud ingin membanding-bandingkan. Aku memang suka melihat Afifa dengan segala keceriaannya. Saat ada masalah pun, ia tetap saja ceria. Sedangkan Aulia, ia cenderung pada tipe gadis yang pendiam dan kadang acuh tak acuh pada orang yang tidak di kenalnya. Saat sedang ada masalah, ia lebih suka menyendiri. Tapi ada satu hal yang aku suka dari Aulia, dia tegas. 

     Jujur saja, teman-teman kampus banyak yang bilang padaku, bahwa Aulia menyukai ku. Tapi aku menganggapnya hanya gurauan belaka. Saat itu, tak pernah terlintas di fikiranku untuk memikirkan hal seperti itu. Dan memang, saat kami bertiga sedang berkumpul untuk mengerjakan tugas kuliah, aku merasa perlakuan Aulia terhadapku memang agak berbeda di bandingkan dengan Afifa. Ia lebih banyak memperhatikan aku dari pada Afifa. 

     Apa aku mulai mencintai keduanya? Entahlah. Aku bingung. Aku tidak tau. Dan aku tidak ingin hanya karena perasaan ini, persahabatan kami bertiga menjadi hancur. Tidak mudah mendapatkan sahabat yang baik dan manis seperti Afifa dan Aulia.

     Tapi yang tak pernah ku duga dan tidak pernah sama sekali melintas di fikiranku adalah malam itu, Afifa mengirim pesan singkat (sms) padaku. Pesan itu berbunyi:

     “Assalamu’alaikum yang entah sedang apa disana... Sebelum kamu baca pesan ini, izinkan aku untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu, sahabatku. Sungguh bagiku ini adalah suatu kenaifan yang sangat memalukan bagi seorang gadis yang sudah bersahabat sejak lama dengan seorang lelaki yang akhir-akhir ini sudah mulai mengusik hati dan fikirannya.” 

     Deg! Belum selesai aku membaca pesannya, tapi otakku berputar dengan cepat. Apa maksud dari pesan Afifa? Lelaki yang sudah mulai mengusik fikirannya? Aku kah orangnya? Aku melanjutkan membaca pesan itu sampai habis.

     “Sudah cukup lama aku memendamnya. Tapi rasanya sudah tidak bisa ku diamkan lagi perasaan ini. Tidak perlu ku jelaskan apa maksudku. Aku tau kamu pasti mengerti.Wassalamu’alaikum.”

     Aku bahagia membaca pesan itu. Pesan yang menjawab pertanyaan ku selama ini. Sebuah jawaban yang mengarah kepada cinta yang tak bertepuk sebelah tangan. Aku tersenyum melihat pesan itu dan membacanya berulang kali. Afifa memang gadis yang ceria. Tapi kalau sudah berurusan dengan masalah hati, ia sangat pemalu. Mustahil baginya untuk mengungkapkannya di hadapanku.

     Aulia? Dia lebih cenderung berani berusaha memperlihatkan rasa sukanya padaku melalui perlakuan dan sikapnya secara langsung. Namun tetap saja, dia juga tidak mungkin mengungkapkannya lewat kata-kata langsung di depanku.

     Afifa sudah memberi lampu hijau padaku, bagaimana dengan Aulia? Gadis manis itu apa akan kecewa nantinya setelah tau kalau Afifa juga menyimpan sebuah perasaan padaku? Itu lah yang aku takutkan. Entah bagaimana caraku menjelaskan pada keduanya. Aku tidak ingin terjadi konflik di antara kami.

     Aghh..! Kepala ku pusing! Apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku memilih keduanya? Jelas tidak mungkin. Atau aku pilih Afifa saja? Pasti Aulia kecewa. Mungkin aku memilih Aulia saja? Tapi sudah pasti Afifa juga akan kecewa dan sedih. 

     Jadi apa pilihan yang terbaik? Aku pun menyerahkan semuanya pada Allah Swt sembari meminta petunjuk dari-Nya. Aku harus bisa mempertahankan persahabatan ini tanpa harus mencampur adukkan masalah hati dan perasaan cinta di dalamnya. Tidak. Tidak akan kubiarkan persahabatan ini luntur hanya karena rasa keegoisan. Tidak akan!

     Akhirnya, ku ajak mereka berdua bicara apa adanya dan ku minta pada mereka untuk berkata yang sejujur-jujurnya tentang perasaan mereka padaku. Mereka mengakui. Aku juga mengakui. Ku ungkapkan pada mereka, bahwa aku tidak bisa memilih keduanya, sebab aku tidak mau terjadi sebuah konflik di antara kita bertiga.

     Sejenak, mereka berdua berfikir. Dengan perasaan tegang aku menunggu apa jawaban dari mereka. Ternyata, mereka setuju dengan pendapatku. Mereka juga memilih mempertahankan persahabatan ini dan melupakan perasaan cinta itu. 

     Mereka bilang, mungkin ini hanya perasaan cinta yang sementara, dan sebentar saja bisa dilupakan. Sedangkan persahabatan, akan tetap ada sampai nafas sudah tak berhembus lagi. Tidak ada yang marah di antara mereka. Kami bahkan malah tertawa setelah mendengar pengakuan dari perasaan kami masing-masing. Mereka berdua memang bidadari-bidadari ku yang sangat pengertian.

Selesai :-)

Karya: Devi Sarwani
@Fb: Ukhti Vivie @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara