Rabu, 29 Oktober 2014

Cerpen Islami



Cerpen Islami
“Keyakinan Akan Janji-Mu”

Sedari tadi gerimis tak kunjung berhenti menaungi sore ini. Udara terasa sejuk. Matahari senja sedang melukis pelangi di ufuk barat sana hingga spektrumnya terpancar masuk ke dalam kamar seorang gadis. Membentuk sejuta hati yang gelisah, di rundung cemas di pagut kegelisahan yang kian menderu.

Namanya Alila. Tercatat sebagai mahasiswi disalah satu universitas Islam di Kota metropolitan itu. Ia adalah gadis yang sholehah, patuh kepada orang tua, takut terhadap Allah Swt dan cinta akan Nabi nya. Seorang makhluk yang hampir mencapai kesempurnaan dalam segi akademik dan religinya, dan juga pada fisiknya.

Alila, mempunyai wajah yang cantik nan teduh dengan mata yang bulat. Ia sangat pandai dalam berkomunikasi menggunakan bahasa inggris, fasih dalam membaca Al-Qur’an, sholat 5 kali di awal waktu, dan hobby nya adalah berpuasa di hari senin. 

Banyak para ikhwan yang berlomba ingin mendapatkan hati gadis ini. Ada yang langsung datang mengkhitbah kerumahnya, ada pula yang langsung mengutarakan dihadapannya secara langsung. Namun Alila bukanlah gadis yang mudah didapatkan. Sebagai mahasiswi yang sudah lulus S1 fakultas Pendidikan Agama Islam, Alila tentu mempunyai beberapa kriteria tentang ikhwan yang tepat untuk menjadi calon suaminya dan calon ayah dari anak-anaknya kelak.

Sudah banyak para ikhwan yang datang mengkhitbah, tapi semua ditolaknya. Karena banyak diantara para ikhwan itu yang cara membaca Al-Qur’annya tidak lancar. Mereka hanya mengandalkan modal kekayaan dan martabat semata untuk mendapatkan hati Alila. Orang tua Alila memberi kepercayaan dan kebebasan pada Alila untuk memilih calon suami seperti apa yang ia inginkan. Mereka tau, putri semata wayang mereka itu tentu tidak akan salah memilih pasangan hidup. 

Sampai pada suatu ketika, datang lima orang ikhwan yang datang bersamaan dengan maksud ingin mengkhitbah. Alila langsung menguji mereka dengan meminta mereka membaca Al-Qur’an langsung di hadapannya. Satu dari lima orang tersebut tidak lancar baca Al-Qur’an nya. Tersisa lah empat orang yang masih bertahan. 

Alila memberi ujian lagi kepada empat ikhwan tersebut. Ia meminta mereka untuk membaca tujuh surah secara lisan beserta artinya. Satu ikhwan tidak berhasil lolos dari ujian tersebut. Tersisalah tiga ikhwan yang masih bertahan.

Alila menyuruh mereka datang kembali esok hari dan menyuruh mereka membawakan sesuatu untuknya.
2 Esoknya, datanglah tiga ikhwan itu ke rumah Alila. Alila pun bertanya, apa yang mereka bawakan untukknya.

Ikhwan pertama menjawab sembari mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.  “Saya membawa kunci mobil ini. Mobil itu akan saya berikan pada ukhty Alila, jika ukhty mau menerima pinangan saya.”

Tampak tak ada reaksi apa-apa dari Alila mengenai jawaban sang ikhwan yang pertama. Lalu bertanyalah ia pada ikhwan yang kedua, dan ikhwan itu menjawab, “Saya membawakan kunci rumah baru ini. Rumah yang baru saya beli untuk saya persembahkan pada ukhty Alila.” 

Masih tak ada reaksi apa-apa dari Alila. Ia pun langsung bertanya pada ikhwan yang ketiga perihal apa yang ia bawakan untuknya. Ikhwan tersebut menjawab sembari mengeluarkan sebuah kantong plastik berwarna ungu muda. “Ini mukenah, untuk ukhty Alila. Saya tidak ingin ukhty meninggalkan sholat walaupun hanya satu waktu saja.” ujarnya.

Alila tersenyum mendengar jawaban dari ikhwan yang ketiga ini dan menerima pemberiannya. Alila pun menyuruh mereka pulang lagi kerumah masing-masing. Sebenarnya ia sudah yakin ingin memilih ikhwan yang ketiga. Akan tetapi biar lebih yakin dan bisa memantapkan hatinya, ia ingin memberi ujian lagi kepada mereka bertiga.  

Tiga hari kemudian, datanglah ketiga pemuda itu lagi ke rumah Alila. Kini masing-masing ikhwan di dampingi oleh orang tua mereka. Namun Alila tidak keluar, Ummi dan Abi nya yang keluar. Dengan wajah yang dipenuhi rasa kesedihan, Ummi Alila pun berkata pada mereka.

“Afwan, Alila sedang tidak bisa ditemui. Kemarin sore Alila mendapat musibah di jalan saat menuju pulang ke rumah. Kakinya patah dan Alila tidak bisa berjalan tanpa kursi roda..”

Mereka semua pun terkejut mendengar penuturan dari Ummi Alila ini. Dua ikhwan beserta orang tua mereka langsung pulang setelah mendengar bahwa kaki Alila patah dan tak bisa berjalan tanpa kursi roda. Sementara itu, ada satu ikhwan yang masih bersikukuh dan tidak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya.

Ummi Alila pun bingung melihat pemuda yang masih tak bergeming ini. Padahal ikhwan yang lain sudah pulang semua.

“Nak Fathan, masih ingin melanjutkan khitbah ini? Setelah tau bagaimana kondisi Alila sekarang?” tanya Ummi Alila.

“Ibu, bagaimana pun keadaan Alila, sehat atau pun sakit, susah atau pun senang, saya sudah dari awal berniat mengkhitbahnya. Saya mengkhitbahnya karena hati saya dituntun oleh Allah untuk menyukainya dari awal saya bertemu dengannya. Bukan karena fisiknya. Keyakinan saya terhadap rencana Allah Swt tidak akan goyah.” ikhwan itu menjawab dengan pasti.

Alila yang mendengar pembicaraan mereka dari dalam kamarnya, langsung mengucap syukur kepada Allah Swt. Ternyata masih ada lelaki yang mencintai seorang gadis bukan hanya karena fisik, tapi karena ketulusan hatinya. 

Alila pun langsung keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu. Fathan sangat terkejut melihat Alila yang sehat wal’afiat. Tak kurang suatu apapun, dan kakinya baik-baik saja. Alila duduk di antara kedua orang tuanya. 

“Nak Fathan, Alila sebenarnya tidak sakit atau pun kecelakaan. Dia sengaja berbuat seperti ini agar dia yakin, calon suami mana yang pantas menjadi pendamping dan imam nya kelak. Yang bisa menerima keadaannya apa adanya.” tutur Abi Alila.

Jelas rasa lega terbias di raut wajah Fathan dan kedua orang tuanya. Inilah hadiah terindah yang diberikan Allah kepada Fathan atas jerih payahnya mempertahankan keyakinannya pada Allah dan tak merubah keputusannya untuk tidak jadi mengkhitbah Alila.

Kini, ia mendapat manisnya hasil dari ujian dan penantiannya terhadap Alila. Gadis yang selama ini menjadi dambaan hati para ikhwan di kampus. Akhirnya ia yang mendapatkan Alila, karena ketulusan hatinya dan keyakinan akan janji-Nya, sang Maha membolak balikkan hati makhluk ciptaan-Nya.
Selesai

Karya: Devi Sarwani
@Fb: Ukhti Vivie @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara


Sabtu, 18 Oktober 2014

Cerpen Islami



Cerpen Islami

“Hari Pertama Melihat Dunia”

     Suatu hari, di dalam sebuah bis. Ada seorang lelaki separuh baya dan seorang pemuda berumur sekitar 20 tahun. Pemuda itu adalah anak dari lelaki separuh baya tersebut. Tampak raut wajah pemuda itu sangat senang sekali. Saat didalam bis, ia terus bicara. Ia selalu melihat-lihat pemandangan luar dari kaca jendela bis yang dinaikinya. Ia pun bertanya kepada ayah nya.

     “Ayah, yang di atas sana itu apa?” 

     “Itu namanya awan, nak.” jawab Ayahnya.

     “Wah... bagus sekali yah awan itu, warnanya putih. Kalo itu... apa namanya Ayah?” tanya pemuda itu lagi sembari menunjuk sebuah gedung tinggi yang sedang banyak di kunjungi.

     “Itu namanya Mall, pusat perbelanjaan masyarakat. Disana, semuanya ada.” jawab Ayahnya lagi dengan sabar.

     “Oh.. Kalo yang sedang terbang-terbang itu namanya burung ya, Ayah?” tanyanya lagi seraya menunjuk sekawanan burung yang sedang terbang.

     “Iya, nak.” 

     Beberapa penumpang yang berada didalam bis itu pun melihat pemuda itu dengan tatapan aneh. Mereka merasa ada yang aneh dari pemuda itu. Salah satu penumpang itu pun berkata pada Ayah dari pemuda tersebut.

     “Pak, apa itu anakmu?” 

     “Iya, dia anak saya.” jawab sang Ayah.

     “Sepertinya anak bapak itu harus di bawa kerumah sakit jiwa. Saya rasa ada yang tidak beres dengannya. Tingkahnya seperti anak kecil saja.” kata penumpang itu sinis.

     “Alhamdulillah, saya dan anak saya memang baru pulang dari rumah sakit. Anak saya baru operasi mata. Dia buta sejak lahir. Dan ini adalah hari pertamanya ia melihat dunia.” tutur si Ayah pemuda tersebut.

     Penumpang itu pun langsung diam tak berkutik. Ia tak bisa berkata apa-apa. Sang Ayah dan pemuda itu pun langsung turun dari bis karena telah sampai pada tujuan mereka.

Pesan moral: “Jangan menilai seseorang itu dari luarnya, karena mungkin dirimu belum tau apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri orang tersebut sehingga membuatnya berbuat dan bertingkah laku demikian.”

Selesai

Karya: Devi Sarwani
@Fb: Ukhti Vivie @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara

Rabu, 15 Oktober 2014

Cerpen Islami



Cerpen Islami
 “Bidadariku, Sahabatku”

     Aku terhenyak dari lamunan panjangku. Ku dengar suara lembut nan merdunya mengagetkan ku yang sedang menerawang jauh. Sebuah suara yang sangat ku kenal siapa pemiliknya. Dia Afifa Fitiya. Sahabatku sejak aku duduk di bangku SMA. Aku sangat dekat dengannya, dan hanya aku satu-satunya lelaki yang dekat dengannya. Dia seorang gadis yang sangat baik dan sholehah. Jilbabnya panjang, salah satu hal yang ku sukai darinya.

     Aku, Farid Atallah. Anak sulung dari dua bersaudara. Status ku sebagai mahasiswa di salah satu Universitas Islam di kota ku. 

     Selain Afifa, aku juga punya sahabat perempuan yang lain. Namanya Aulia Arkarna. Dia juga gadis yang baik dan sholehah. Kedua gadis ini adalah orang yang sangat dekat denganku, setelah Ibu ku. Tapi jangan di sangka karena mereka sahabatku, lantas aku selalu menempelkan diri pada mereka.? 

     Itu salah besar! Dekat disini dalam artian aku dan kedua gadis itu merupakan insan yang bisa saling mengerti, percaya, dan saling mendukung satu sama lain. Di kampus, kami biasanya hanya bertemu apabila salah satu di antara kami meminta bantuan untuk mengerjakan tugas kuliah. Kami tau arti pembatasan diri. 

     Namun akhir-akhir ini, fikiran dan angan ini sering mengarah pada Afifa, gadis manis dengan dua buah lesung pipit di pipinya. Entah sejak kapan. Padahal selama ini, aku memperlakukan kedua gadis itu layaknya sebagai sahabat sendiri. Setelah aku berusaha mencari jawaban atas semua perasaan aneh yang ku rasakan, akhirnya tak bisa ku pungkiri, bahwa aku mulai mencintai Afifa. Apa alasannya? Kenapa bukan Aulia yang aku sukai? Bukankah dia juga sahabatku? Mungkin karena jilbab Afifa lebih panjang dari jilbab yang dikenakan Aulia? Atau mungkin, Afifa gadis yang lebih periang dari pada Aulia?

     Tidak bermaksud ingin membanding-bandingkan. Aku memang suka melihat Afifa dengan segala keceriaannya. Saat ada masalah pun, ia tetap saja ceria. Sedangkan Aulia, ia cenderung pada tipe gadis yang pendiam dan kadang acuh tak acuh pada orang yang tidak di kenalnya. Saat sedang ada masalah, ia lebih suka menyendiri. Tapi ada satu hal yang aku suka dari Aulia, dia tegas. 

     Jujur saja, teman-teman kampus banyak yang bilang padaku, bahwa Aulia menyukai ku. Tapi aku menganggapnya hanya gurauan belaka. Saat itu, tak pernah terlintas di fikiranku untuk memikirkan hal seperti itu. Dan memang, saat kami bertiga sedang berkumpul untuk mengerjakan tugas kuliah, aku merasa perlakuan Aulia terhadapku memang agak berbeda di bandingkan dengan Afifa. Ia lebih banyak memperhatikan aku dari pada Afifa. 

     Apa aku mulai mencintai keduanya? Entahlah. Aku bingung. Aku tidak tau. Dan aku tidak ingin hanya karena perasaan ini, persahabatan kami bertiga menjadi hancur. Tidak mudah mendapatkan sahabat yang baik dan manis seperti Afifa dan Aulia.

     Tapi yang tak pernah ku duga dan tidak pernah sama sekali melintas di fikiranku adalah malam itu, Afifa mengirim pesan singkat (sms) padaku. Pesan itu berbunyi:

     “Assalamu’alaikum yang entah sedang apa disana... Sebelum kamu baca pesan ini, izinkan aku untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu, sahabatku. Sungguh bagiku ini adalah suatu kenaifan yang sangat memalukan bagi seorang gadis yang sudah bersahabat sejak lama dengan seorang lelaki yang akhir-akhir ini sudah mulai mengusik hati dan fikirannya.” 

     Deg! Belum selesai aku membaca pesannya, tapi otakku berputar dengan cepat. Apa maksud dari pesan Afifa? Lelaki yang sudah mulai mengusik fikirannya? Aku kah orangnya? Aku melanjutkan membaca pesan itu sampai habis.

     “Sudah cukup lama aku memendamnya. Tapi rasanya sudah tidak bisa ku diamkan lagi perasaan ini. Tidak perlu ku jelaskan apa maksudku. Aku tau kamu pasti mengerti.Wassalamu’alaikum.”

     Aku bahagia membaca pesan itu. Pesan yang menjawab pertanyaan ku selama ini. Sebuah jawaban yang mengarah kepada cinta yang tak bertepuk sebelah tangan. Aku tersenyum melihat pesan itu dan membacanya berulang kali. Afifa memang gadis yang ceria. Tapi kalau sudah berurusan dengan masalah hati, ia sangat pemalu. Mustahil baginya untuk mengungkapkannya di hadapanku.

     Aulia? Dia lebih cenderung berani berusaha memperlihatkan rasa sukanya padaku melalui perlakuan dan sikapnya secara langsung. Namun tetap saja, dia juga tidak mungkin mengungkapkannya lewat kata-kata langsung di depanku.

     Afifa sudah memberi lampu hijau padaku, bagaimana dengan Aulia? Gadis manis itu apa akan kecewa nantinya setelah tau kalau Afifa juga menyimpan sebuah perasaan padaku? Itu lah yang aku takutkan. Entah bagaimana caraku menjelaskan pada keduanya. Aku tidak ingin terjadi konflik di antara kami.

     Aghh..! Kepala ku pusing! Apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku memilih keduanya? Jelas tidak mungkin. Atau aku pilih Afifa saja? Pasti Aulia kecewa. Mungkin aku memilih Aulia saja? Tapi sudah pasti Afifa juga akan kecewa dan sedih. 

     Jadi apa pilihan yang terbaik? Aku pun menyerahkan semuanya pada Allah Swt sembari meminta petunjuk dari-Nya. Aku harus bisa mempertahankan persahabatan ini tanpa harus mencampur adukkan masalah hati dan perasaan cinta di dalamnya. Tidak. Tidak akan kubiarkan persahabatan ini luntur hanya karena rasa keegoisan. Tidak akan!

     Akhirnya, ku ajak mereka berdua bicara apa adanya dan ku minta pada mereka untuk berkata yang sejujur-jujurnya tentang perasaan mereka padaku. Mereka mengakui. Aku juga mengakui. Ku ungkapkan pada mereka, bahwa aku tidak bisa memilih keduanya, sebab aku tidak mau terjadi sebuah konflik di antara kita bertiga.

     Sejenak, mereka berdua berfikir. Dengan perasaan tegang aku menunggu apa jawaban dari mereka. Ternyata, mereka setuju dengan pendapatku. Mereka juga memilih mempertahankan persahabatan ini dan melupakan perasaan cinta itu. 

     Mereka bilang, mungkin ini hanya perasaan cinta yang sementara, dan sebentar saja bisa dilupakan. Sedangkan persahabatan, akan tetap ada sampai nafas sudah tak berhembus lagi. Tidak ada yang marah di antara mereka. Kami bahkan malah tertawa setelah mendengar pengakuan dari perasaan kami masing-masing. Mereka berdua memang bidadari-bidadari ku yang sangat pengertian.

Selesai :-)

Karya: Devi Sarwani
@Fb: Ukhti Vivie @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara





Selasa, 14 Oktober 2014

Cerpen Islami



Cerpen Islami
“KEKASIH HALALKU”
     Aku jatuh cinta....

     Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu di aula kampus, saat acara buka puasa bersama empat tahun yang lalu. Dia kakak kelas ku di kampus, dengan fakultas yang sama denganku. Namanya Faiz Assahib Rahmat. Dia orang yang sangat baik. Dia juga telah menyelesaikan S1 nya, dan sedang berjuang meraih gelar Master.

     Namaku Syifa Sauqiya. Anak semata wayang dari Ibu Hj. Ainun Mahya dan Kyai Hj. Dzakir Khafadi. Aku kuliah di salah satu Universitas Islam di kota tempatku lahir dan juga dibesarkan. Aku telah berhasil menyelesaikan S1, dan juga sedang berjuang meraih gelar Master, sama seperti mas Faiz. Tapi tentu saja tingkatannya lebih tinggi dariku.

     Sejauh ini, aku hanya bisa memendam perasaan ini di dalam hati. Tidak mungkin aku mengungkapkannya secara langsung di hadapannya. Cukup aku dan Allah yang tau. Aku tidak merasa khawatir, atau terus-menerus memikirkannya. Aku percaya, jika Allah berkehendak, semuanya pasti bisa saja terjadi. Karena Allah adalah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

     Empat tahun itu, aku berjuang menahan diriku. Aku menahan diriku agar rasa cintaku pada mas Faiz, tidak melebihi rasa cintaku pada-Nya, Allah Swt. Aku tidak ingin rasa cinta ini membuat aku memaksakan kehendak takdir. Yang ku lakukan hanyalah berdo’a, memantaskan diri, dan berikhtiar menunggu datangnya suatu keajaiban. Yaitu aku ingin menjadi kekasih halalnya.

     Tapi sore itu, aku di kejutkan oleh berita yang membuat fikiran ku sedikit terganggu. Aku baru saja pulang kuliah. Abi dan Ummi langsung mengajakku bicara. Mereka bilang, tadi siang ada seorang ikhwan yang datang kerumah dengan maksud ingin mengkhitbahku. Aku bingung, dan tidak bisa berkata apa-apa. 

     Seketika anganku melayang pada mas Faiz. Bagaimana ini? Orang yang ku cintai selama ini adalah mas Faiz. Tapi kini, ada lagi seorang ikhwan yang datang mengkhitbah. Aku bahkan tidak tau siapa dia. Aku tidak bertanya pada Ummi dan Abi. Fikiran ku terlalu kacau. Tugas kuliah juga banyak yang belum terselesaikan.

     Sementara itu, selama ini Ummi juga sudah sering mengingatkanku. “Ingat nak, umur mu sudah bukan remaja lagi. Kamu juga sudah menyelesaikan S1 mu kan? Jadi apa salahnya kalau nanti ada yang mengkhitbah mu lagi, kamu terima saja. Sudah ada enam ikhwan yang kamu tolak, nak. Abi dan Ummi merasa tidak enak hati.”

     Ya, sudah ada enam ikhwan yang datang ke rumah. Tapi aku tolak semua dengan alasan aku masih ingin berkonsentrasi penuh pada kuliah ku. Aku terus berikhtiar dan bertasbih untuk menenangkan fikiranku. 

     Akhirnya setelah berfikir dengan matang selama lima hari dan juga sudah menjalankan sholat istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah, aku pun menerima lamaran ikhwan yang ke tujuh ini tanpa lebih dulu melihat wajahnya. Aku pasrah. Mungkin dia yang Allah pilihkan untuk menjadi kekasih halalku.

     Dan terlaksanalah acara pertunanganku dengannya malam itu. Ia datang ke rumah bersama kedua orang tua dan beberapa kerabatnya. Hari itu, menit dan detik itu lah aku baru mengetahui bahwa yang mengkhitbah ku itu adalah lelaki yang selama ini selalu ku sebut-sebut dalam do’a ku. Mas Faiz. 

     Subhannallah.... refleks langsung terucap rasa syukur dari bibir ku. Bagaimana ini bisa terjadi? Hanya Allah lah yang tau. Saat itu, aku hanya merasa bahwa Allah telah menjawab semua do’a-do’a ku. Aku bahagia. Sangat bahagia. Mas Faiz tersenyum melihat wajah ku yang masih bingung melihatnya seolah-olah malam itu kurasakan bagai mimpi. Malam itu juga telah melingkar di jari manis ku sebuah cincin yang sangat indah. Ummi mas Faiz sendiri yang memasangkannya di jari ku.

     Singkat cerita, prosesi akad nikah dan resepsi pun telah terlaksana. Acaranya di langsungkan di apartemen milik mas Faiz sendiri. Bahagia? Itu sudah pasti. Bahagia yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Mas Faiz pun tampak sangat bahagia. Senyum nya tak pernah hilang menghiasi wajah nya yang sangat tampan. Bagiku, dia adalah seorang lelaki yang sangat manis, di tambah dua lesung pipit di pipi nya. Sempurna.

     Selesai sudah acara resepsi. Kurasakan tubuh ku sangat lelah sekali, mungkin mas Faiz juga merasakan hal yang sama. Aku memasuki kamar pengantin kami. Ku nyalakan lampu nya, dan seketika suasana yang tadinya gelap, berganti dengan pemandangan yang sangat indah, dengan hiasan-hiasan dan bunga-bunga yang sangat harum. Semuanya berwarna putih. Benar-benar kamar yang sangat indah. 

     Mas Faiz masih di ruang acara resepsi, sedang berbincang-bincang dengan beberapa kerabat yang masih bersantai di ruangan itu. Keluarga ku dan keluarga nya, semuanya menginap di apartemen miliknya malam ini.
***
     Aku dan mas Faiz telah selesai melaksanakan sholat Isya dan sholat Sunnah. Tiba-tiba mas Faiz mengajakku ke balkon. Posisi balkon nya sangat strategis. Tepat menghadap ke pusat kota. Dari ketinggian tujuh lantai, kami bisa menikmati indahnya lampu-lampu bangunan yang berkerlap-kerlip, jalanan kota yang masih belum sepi, dan juga gedung-gedung tinggi pencakar langit yang berdiri dengan kokohnya. Pemandangan yang sangat indah.

     Kami duduk berdua di sebuah kursi panjang. Aku sangat canggung dan salah tingkah saat berada di dekatnya. Sepertinya ia juga merasakan hal yang sama. Ku lihat dia meminum minuman yang telah ku buat spesial untuknya. 

     “Kenapa teh nya rasanya asin ya? Asin sekali.” ungkapnya pelan.

     “Be.. benarkah?” tanyaku kaget.

     “Iya, coba kamu rasakan.” katanya sembari memberikan gelas teh nya padaku.

     “Ini manis mas. Tidak asin sama sekali.” kataku.

     Ia pun mencicipinya sekali lagi. 

     “Syifaku sayang, ini asin. Cobalah sekali lagi.” 

     Aku menuruti kata-katanya dan mencicipi lagi teh yang kubuat itu.

     “Tidak, mas. Ini manis. Tidak asin sama sekali.” kataku tegas.

     “Benarkah? Biar aku coba lagi.” Ia pun meneguk lagi teh itu.
 
     “Hmm.. awalnya teh ini rasanya asin. Tapi, setelah kamu mencicipinya dua kali, minuman ini jadi manis sekali. Belum pernah aku minum minuman semanis ini.”

     “Ah mas Faiz, mengerjaiku yah...!” seruku sembari mencubit lengannya, manja.

     Suasana tegang pun seketika menjadi cair dan romantis. Tidak ada rasa canggung lagi di antara aku dan mas Faiz. Aku menyandarkan kepala ku di pundak mas Faiz. Di langit sana, bintang-bintang tampak bekerlap-kerlip, menyaksikan dua insan yang sedang di landa rasa bahagia.

     Beginikah rasanya pacaran setelah menikah? Sudah boleh melakukan apa saja yang di inginkan karena sudah halal. Dan lebih beruntungnya lagi bagi pasangan yang sudah halal, melakukan apa saja sudah terhitung pahala.

     “Jam berapa sekarang, sayang?” tanya nya padaku.

     Ku lirik jam yang melingkar di tanganku. “Jam sebelas, mas.”

     “Sudah malam. Kita masuk yuk.” katanya sembari menarik tanganku masuk ke dalam dan mengunci pintu balkon.

     Kami duduk di tepi ranjang. Mas Faiz membaca basmalah dan memegang ubun-ubun kepala ku dengan penuh rasa sayang. Segelintir do’a yang telah di ajarkan Baginda Nabi pun terdengar dari mulutnya.

     “Allaahumma, inni asaluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha...”

     Aku memejamkan kedua mataku, sembari mengucapkan amin.. amin..amin. Ia melanjutkan kembali do’a nya.

     “Baarakallaahu likulli waahidin minna fi shaahibihi.”
  
     Lalu ia mencium keningku. Itu adalah sebuah ciuman terindah yang pertama ku rasakan dari seorang lelaki yang sangat ku cintai. Aku terus mengucapkan amin.. amin..amin. Dan malam itu, kami pun memasuki malam zafaf dengan penuh rasa bahagia dan barokah tentunya.
 
     Yang lebih melengkapi kebahagiaanku adalah, enam bulan setelah pernikahanku dengan mas Faiz, kami di karuniai jabang bayi yang tumbuh dalam rahim ku. Aku sangat bahagia. Mas Faiz juga sangat bahagia. Sungguh kebahagiaan yang sangat tak ternilai harganya. 

     Aku menganggap semua itu adalah buah manis sebagai hadiah yang diberikan Allah atas ikhtiar ku pada-Nya selama ini. Mas Faiz semakin cinta padaku, dan aku juga sangat mencintainya. Dialah kekasih halalku.
*Selesai*




Karya: Devi Sarwani
@Fb: Devi Andriawan @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara