Cerpen Islami
“Surat
Cinta Untuk Anna”
Aku memikirkannya lagi. Disetiap aku memejamkan
mata ini, hanya ada bayangnya yang melintas. Aku sudah berusaha menghalau
bayangan wajahnya dari hati dan fikiran ini. Tapi tetap saja tidak bisa.
Apa yang harus aku lakukan? Apa ini yang namanya
jatuh cinta?
Tidak! Aku rasa belum waktunya! Mungkin ini
hanyalah rasa kagum sementara. Dua minggu lagi mungkin perasaan seperti ini
akan hilang dengan sendirinya.
Aku memasang headset di telingaku dan memejamkan
mataku. Perlahan mengalunlah lagu Maher Zain yang berjudul “Freedom”. Aku sangat
menyukai lagu ini. Karena lagu ini mengingatkan aku tentangnya. Pertama kali
mendengar lagu ini, dia ada didepan mataku. Mungkin itulah alasan kenapa setiap
kali aku mendengar lagu ini, aku teringat dia.
Tak berapa lama kemudian, aku seolah-olah sedang
terlelap di ruang kelas yang suasananya sangat hening. Tiba-tiba ada seseorang yang
menepuk pundakku.
“Hayoo...! Anna lagi ngapain sendirian dikelas? Dosen
kan belum datang...!!”
“Ihh...Vili, ngagetin aja!” sahutku dengan wajah
cemberut.
“Ciee.. jangan merengut. Jelek tau! lagian mikirin
apa sih? Aku perhatiin belakangan ini kamu sering ngelamun? Jangan-jangan kamu
lagi mikirin seorang ikhwan yah? Hayo ngaku...!”
Aku gelagapan. Bisa malu aku kalo Vili tau apa
yang buat aku jadi sering ngelamun belakangan ini.
“Emmhh gak kok. Aku lagi mikirin .....” belum
selesai aku bicara, Vili langsung memotong.
“Ngaku aja. Cerita sama aku An...” ia mendesakku. Aku
hanya bisa terdiam.
“Dengerin aku. Kalau kamu emang lagi mikirin
seseorang, yang harus kamu rayu bukan orangnya. Tapi Dzat Penciptanya yang
harus kamu rayu. Apa susahnya bagi Allah untuk membolak-balikkan hati manusia kalau
Allah mengizinkan? Kamu gak perlu sampai kepikiran kayak gini. Selipkan namanya
dalam bait-bait do’a mu.”
Vili memang sangat mengenal aku. Bagaimana ia bisa
tau kalau yang sedang aku fikirkan saat ini adalah seorang ikhwan?
“Emm... itu... emm. Eh, aku belum tau judul apa
yang harus aku kasih di cerpen yang harus aku kumpulin di klub menulis nanti. Temanya
tentang seorang gadis yang sedang jatuh cinta, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.”
jawabku sekenanya.
“Ohh jadi kamu lagi mikirin itu? Nanti aku bantuin
mikirin judul apa yang tepat untuk cerpen itu. Ya udah sekarang kita sholat Dhuha
dulu yuk, sekalian tilawah sebentar.”
Vili menarik tanganku. Memang sudah menjadi
kebiasaannya untuk selalu mengingatkanku sholat Dhuha. Ia juga tidak pernah
lupa mengajakku tilawah. Dia adalah sahabat terbaik yang aku punya.
Ketika kami sampai di masjid kampus, hatiku
bergetar. Ada seorang ikhwan yang sedang duduk sembari memegang Al-Qur’an di
tangannya. Astaghfirullah... aku mengucap dalam hati. Kenapa dia ada disini? Seketika
aku menjadi gugup dan linglung sendiri. Tanpa sadar, ternyata Vili
memperhatikan tingkahku.
“An, kenapa sih? Hayo... ngeliatin kak Rizky yah?”
Hupp! Dengan cepat aku menutup mulut Vili dengan
tanganku.
“Sssttt... jangan berisik Vili. Nanti dia dengar.”
kataku sembari melepaskan tanganku yang menutupi mulutnya.
“Nah, sekarang ketahuan kan? Ternyata yang kamu
fikirin belakangan ini tuh bukan cerpen yang harus kamu kumpulin di klub
menulis, tapi dia kan?” Vili bertanya sambil menunjuk ke arah kak Rizky.
Tiba-tiba kulihat ikhwan itu sudah selesai mengaji
dan menutup Al-Qur’annya. Ia melihat ke arahku dan Vili. Merah sudah pipiku. Jantungku
serasa mau melompat keluar. Kurasakan telapak tanganku dingin. Ia berjalan ke
arahku dan Vili. Jangan-jangan tadi ia mendengar pembicaraan aku dan Vili? Tamat
sudah riwayatku....!!
“Ukhty berdua lagi ngapain disini? Sudah sholat
Dhuha belum? Ayo sholat dulu.”
Aku tertunduk malu. Vili yang menjawab pertanyaannya.
“Iya kak Rizky, ini baru mau sholat.”
“Oh iya, Anna. Nanti ada pertemuan klub menulis di
perpustakaan ba’da sholat dzuhur nanti. Jangan lupa ya. Kakak permisi dulu.
Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam..” aku dan Vili menjawab salamnya
bersamaan.
Ia tersenyum manis dan pergi. Itu barusan... apa
dia bicara sama aku? Aku? Rasanya aku mau melompat kegirangan. Subhannallah...
Selama ini dia tidak pernah bicara sepatah katapun padaku.
Aku pun sholat Dhuha dan tilawah dengan semangat. Rasanya
sudah tidak sabar menunggu sholat Dzuhur. Dan ketika pertemuan klub menulis di
perpustakaan itu dimulai, ia ada disana. Dia adalah ketua di klub menulis itu. Aku
adalah anggotanya. Ia lebih tua dua tahun dariku. Sudah ada 17 buku hasil
karangannya yang terbit. Itu salah satu yang membuatku sangat mengaguminya. Selain
aku, banyak juga akhwat yang suka padanya. Aku tau hal itu karena beberapa kali
mendengar para akhwat membicarakan tentangnya.
Aku pun menyerahkan cerpen karanganku padanya,
yang berjudul “Namamu Dalam Bait-Bait Doaku”. Aku tertunduk malu. Anggota lain
juga sudah mengumpulkan cerpen karangan mereka masing-masing yang sama temanya.
“Cerpen yang kalian karang, akan kakak baca
dirumah nanti. Pertemuan selesai. Kalian boleh balik ke kelas masing-masing. Kakak
juga sudah ditunggu dosen dikelas. Kita akhiri dengan melafadzkan hamdalah.”
“Alhamdulillahirobbil alamin....”
“Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..”
Ia menutup pertemuan itu dengan salam, dan kami semua
menjawabnya dengan salam pula. Tapi saat itu ada yang sedang mengganjal dihatiku.
Ketika anggota lain sudah keluar semua, ia masih duduk di bangkunya. Setelah selesai
membereskan buku-bukuku, aku pun beranjak dari tempat dudukku. Baru dua langkah
aku melangkah, tiba-tiba aku mendengar ia memanggil.
“Anna..”
Aku menoleh ke belakang.
“Ya kak...?”
Aku mulai gugup lagi. Ia berjalan semakin dekat ke
arahku, dan menyerahkan sebuah amplop berwarna biru muda padaku. Aku menerima
amplop itu.
“Ini apa kak?” tanyaku heran.
“Dibaca aja. Kakak duluan yah. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ia langsung beranjak pergi. Aku masih tidak
percaya, barusan ia bicara sama aku lagi? Aku masih tak beranjak dari tempatku
berdiri. Bergetar aku memegang surat berwarna biru itu. Haruskah aku membacanya
sekarang? Aku penasaran. Tapi aku juga ragu untuk membukanya. Maka aku pun
memberanikan diri untuk membuka surat itu dan membacanya di ruang perpustakaan
itu, sendirian.
Dan isinya adalah:
“Bissmillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh..
Ukhtifillah,
jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh,
Karena
itu akan membuatku mengingatmu..
Berarti
memenuhi kepalaku dengan inginkanmu..
Berimbas
pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku
menginginkanmu sepenuh hati, sepenuh jiwa.
Kasihan
dirimu jika harus hadir dalam khayalku..
Ukhtifillah,
berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung..
Ada
ingin tapi tak ada henti..
Menyentuhmu
merupakan ingin diri, meski sehelai ujung kerudungmu pun tak berani ku sentuh..
Namun
didalam bait-bait doaku selalu ku selipkan namamu, Anna Annisa...
Tak
ada yang lebih baik dari pilihan Allah..
Aku
tidak akan mengotori rasa cinta ini dengan melakukan hal yang tidak
bermanfaat...
Mengkhitbahmu
besok pun aku siap, karena itu jalan
terbaik untuk membuat semuanya menjadi halal..
Akan
aku simpan perasaan ini dan aku serahkan semuanya pada-Nya....
Wassalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.....”
Deg! Terhempas aku dibangkuku. Ini surat darinya. Apa
dia benar-benar menulis ini dengan tangannya sendiri? Sungguh indah tiap
kata-kata yang di rangkainya dalam surat itu. Aku pun memeluk surat itu. Cintaku
berbalas. Sungguh aku tidak pernah berfikir sejauh ini. Ini seperti mimpi
bagiku.
Akhirnya, tiga hari setelah menerima surat
darinya. Aku pun membalas surat itu. Aku mencarinya ke masjid kampus, dan
ternyata dia memang sedang berada disana. Seperti biasa, setiap pagi ia selalu
disini. Ia sedang tilawah.
Aku pun menghampirinya dan tak lupa menghaturkan
salam padanya. Ia membalas salamku. Segera saja aku berikan surat bersampul
warna pink itu padanya. Ia tertunduk. Aku juga. Kami tak berani saling memandang,
karena takut akan zina mata dan zina hati. Aku pun segera berlalu
meninggalkannya setelah mengucapkan salam.
Ku lihat dari kejauhan, ia membuka suratku. Semalaman
aku berusaha merangkai kata-kata yang pas ku ucapkan sebagai seorang muslimah. Aku
tidak ingin ada kata-kata yang bisa salah diartikan olehnya. Surat yang ku
tulis itu berbunyi seperti ini:
“Bissmilahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh..
Akhifillah..
Entah angin apa yang membuatku begitu berani mencoretkan sesuatu untuk dirimu..
Sungguh aku
sangat senang ternyata sebenarnya kamu juga memperhatikanku..
Apalagi bagiku,
kamu adalah ikhwan yang dewasa, sholeh, cerdas dan kharismatik..
Padahal aku belum
mampu berhijab secara baik..
Karena itu,
masing-masing diri kita harus menundukkan pandangan kita..
Bukankah akan
lebih baik bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahi oleh-Nya?
Bukankah lebih
membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhoi oleh-Nya?
Tunggulah aku
meraih gelar sarjanaku, baru setelah itu kamu boleh mengkhitbahku..
Aku percaya,
pilihan-Nya adalah yang terbaik..
Jalan-Nya adalah
jalan yang terbaik..
Namamu juga
selalu ku sebut dalam tiap-tiap bait doaku..
Dari orang yang
selalu merindukan cahaya mu...
Wassalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh..”
Kini aku bisa bernafas dengan lega. Lega karena
ternyata cintaku terbalas. Konsentrasi dengan kuliahku adalah hal yang harus
aku lakukan sekarang. Kini, aku dan dia tak perlu bersusah hati untuk saling
mencari tau tentang perasaan masing-masing, karena semuanya sudah tertera jelas
dalam surat itu. Aku dan dia hanya perlu saling menjaga dan bersabar menunggu
hari itu. Hari dimana aku dan dia akan disatukan dalam sebuah ikatan yang
diridhoi oleh-Nya.
Selesai
Karya: Devi Sarwani
@Fb: Ukhti Vivie @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan
membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara