Minggu, 28 Desember 2014



Cerpen Islami 

“Tak Kenal Maka Ta’aruf”

Kini aku hanya bisa merenungi semua kejadian itu lewat celah-celah jendela dihadapanku. Air mataku sudah tak terbendung. Rasa hati yang bercampur aduk. Disatu sisi, aku merasa bahagia. Disatu sisi, aku merasa sedih dan kesepian. Kelima sahabatku sudah menikah. Dan tepat sebulan yang lalu, sahabat yang paling dekat denganku juga telah bersanding. Aku dan kelima sahabatku ini sama-sama masih kuliah. Tapi tidak satu kampus. 

Aku bahagia, karena mereka telah menemukan pasangan hidup mereka dengan jalannya masing-masing. Keempat sahabatku yang lain, menikah dengan cara berpacaran terlebih dahulu. Sedangkan sahabat yang paling dekat denganku ini, Olifia. Dia menikah dengan cara berta’aruf. Dia dijodohkan dengan seorang lelaki pilihan orang tuanya. 

Dua minggu yang lalu, aku sempat bertemu dengan Olif setelah ia pulang dari berbulan madu. Kulihat raut wajahnya yang jelas menggambarkan bahwa ia sangat bahagia. Aku mengajaknya makan siang bersama setelah aku pulang dari kampus. Obrolan kami pun terasa sangat santai, sampai saat aku bertanya sesuatu padanya yang membuatnya terdiam sejenak.

“Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu, Olif?”

Ia terdiam, perlahan tersenyum dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa kamu nanyanya kayak gitu? Kedengarannya aneh tau..” 

“Yaa... teman-teman kita yang lain kan menikah dengan cara pacaran dulu. Tapi kamu, beda. Kamu menikah dengan seorang lelaki yang baru kamu kenal sehari, setelah itu langsung memutuskan untuk menikah..?” aku pun mendadak kepo.

“Azizah, sekarang aku yang mau nanya sama kamu. Kamu pernah pacaran?”

Aku bingung. Kenapa Olif bertanya seperti itu?

“Yaa gak pernah lah Lif, kamu kan tau sendiri. Dari dulu aku gak pernah punya pacar.”

“Nah, terus apa bedanya? Saat ini kamu gak punya pacar kan? Berarti nanti kalo kamu mau nikah, caranya sama dengan cara aku. Ta’aruf.” ia berkata dengan nada yang sungguh-sungguh.

“Tentu saja aku bahagia dengan pernikahan ini. Bayangkan saja, aku menikah dengan lelaki pilihan kedua orang tuaku. Tentu saja lelaki itu bukanlah lelaki yang sembarangan. Aku juga tidak perlu berpacaran seperti teman-teman kita yang lain. Kamu tau kan? Memandang yang bukan mahram saja udah dosa. Apalagi pacaran?” lanjutnya lagi.

Aku tertegun mendengarnya bicara. Lalu aku bertanya lagi.

“Tapi kan kamu dan suamimu gak saling kenal, Olif. Bagaimana kamu bisa tau sifat asli dalam diri suamimu itu?”

“Justru itu. Tak kenal maka Ta’aruf.” jawabnya sembari tertawa.

“Kita baru akan berhak sepenuhnya mengenal sedalam-dalamnya tentang suami kita, ketika kita sudah halal untuknya.” lanjutnya lagi dengan santai.

Sepulang dari acara makan siang itu, aku jadi lebih banyak melamun dirumah. Saat itu aku sedang duduk didepan jendela kamarku, tiba-tiba Ummi datang menghampiri.

“Azizah, kamu lagi mikirin apa nak?” tanya Ummi.

“Emm bukan apa-apa Ummi.” aku berusaha menutupi fikiranku.

“Oh iya. Ummi mau nanya. Nanti malam kamu ada acara pengajian di masjid ?”

“Gak ada Ummi. Acara pengajian di masjid kan setiap malam rabu dan malam jum’at. Ada apa Ummi?” tanyaku sembari memeluk lututku.

“Ahh, tidak ada apa-apa. Ummi keluar dulu ya.” 

Ummi pun beranjak keluar dari kamarku. Aku bingung. Sikap Ummi tidak seperti biasanya.
Malamnya, aku baru saja selesai tilawah dan sholat maghrib. Tiba-tiba aku mendengar Ummi memanggil namaku. Baru aku mau keluar dari kamar, Ummi langsung masuk duluan ke kamarku. Aku pun bertanya.

“Ada apa Ummi?”

“Itu... ada teman Abi mu yang datang. Kamu keluar ya. Rapikan jilbabmu. Ummi mau menyiapkan minuman dulu.” kata Ummi sambil senyum-senyum.

Ummi kenapa ya? Pikirku. Aku pun langsung merapikan jilbabku dan keluar dari kamar menuju ke dapur. 

“Ummi, sini biar Azizah yang bawain minumannya.” kataku sembari membawa nampan berisi teh hangat itu keruang tamu. Setelah aku menaruh minuman itu di atas meja ruang tamu, aku pun memberanikan diri melihat ke depan. Agak kaget rasanya setelah aku melihat siapa yang duduk di ruang tamu itu. Ada Olif dan suaminya. Juga ada sepasang suami istri yang kira-kira umurnya sebaya dengan orang tuaku, disebelahnya duduk seorang lelaki yang masih muda. 

“Azizah, duduk sini nak.” 

Abi menyuruhku duduk disebelahnya. Aku pun duduk ditengah Abi dan Ummi.

“Ini sahabat lama Abi, nak. Namanya Kyai Abdul Ghofar, teman SD Abi dulu. Yang itu istrinya, juga teman Abi waktu SD.” Abi memperkenalkan aku kepada sepasang suami istri yang sudah setengah baya itu. Aku pun menyalami mereka dengan wajah yang tertunduk karena malu.

“Nah... yang ini anak semata wayang kami. Namanya Farid Atallah. Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Kairo, Universitas Al-Azhar.” tutur Kyai Abdul Ghofar.

Setelah diperkenalkan seperti itu, lelaki itu tertunduk. Entah apa yang di fikirkannya. Kulihat Olif dan suaminya senyum-senyum ke arahku. Ada apa ini? Aku jadi merasa tidak enak.

“Jadi begini, nak Azizah. Kedatangan kami kemari, kami bermaksud untuk mengkhitbah nak Azizah menjadi menantu kami. Kami sudah mendengar banyak tentang nak Azizah dari Dahlan, suaminya Olifia ini.” kini istri Kyai Abdul Ghofar yang menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang kerumah.

Wajahku memerah. Bagaimana suaminya Olif kenal dengan lelaki yang bernama Farid itu? bukannya Kyai Abdul Ghofar itu temannya Abi ku? Melihat wajahku yang dirundung dengan seribu tanda tanya, suami Olif pun tersenyum dan menjelaskan semuanya padaku.

“Jadi gini Azizah. Farid ini adalah sahabatku di Kairo. Kami satu kampus disana. Setelah wisuda enam bulan yang lalu, aku dan dia sama-sama pulang ke Indonesia. Ketika pulang, aku langsung meminang sahabatmu ini, Olifia. Melihat Farid yang belum juga mengkhitbah seorang akhwat, aku jadi teringat padamu yang tahun depan juga wisuda. Ya sudah, aku ceritakanlah semua tentang dirimu itu pada orang tuanya Farid. Aku banyak mendengar ceritamu itu juga dari sahabatmu ini, si Olif. Dan ternyata, Ayahnya Farid ini adalah sahabat lama Abi mu. Langsung saja Kyai Abdul Ghofar ini setuju untuk mengkhitbahmu dan datang kemari.” tuturnya sembari tertawa terkekeh.

Kulihat Olif hanya tersenyum simpul melihatku yang salah tingkah. Jadi begitu ceritanya. Aku pun hanya bisa tertunduk malu. Tak berani memandang wajah tampan dan mata yang teduh itu di hadapanku. Semua orang yang duduk di ruang tamu itu pun tersenyum dan Abi langsung menyimpulkan.

“Nah, kalau sudah si ikhwan dan akhwat saling menunduk dan wajah mereka sama-sama merah seperti ini, tandanya dua-duanya sudah setuju. Iya kan?”

Yang lain pun serentak menjawab.

“Itu benar.......”

Selepas dari malam itu, seminggu kemudian acara pertunanganku dengan Farid pun berlangsung. Sebulan kemudian, tergelar juga lah acara walimahnya. Acara ijab kabul pernikahan kami diadakan di Masjid Raya Mujahidin dan acara walimahnya berlangsung di gedung pernikahan yang sudah dipesan oleh pihak keluarga kami dua minggu sebelum acara resepsi.

Aku bahagia. Pada awalnya, aku mengira pernikahan yang terjadi dengan cara bertemu sebentar dan langsung menikah itu tidak akan sebahagia ini. Aku merasa ini adalah kebahagiaan yang sempurna. Aku mengenal lebih dalam tentang suamiku setelah kami menikah. Aku berpacaran dengan suamiku setelah aku menjadi halal untuknya. Dan seiring berjalannya waktu, cinta itu tumbuh dengan jalan yang diridhoi oleh-Nya, sang Maha Cinta.

Selesai

Karya: Devi Sarwani
@Fb: Devi Sarwani @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara