“Hari Ini Telah
Datang”
Malam ini Raisya tidak bisa
tidur. Suara-suara berisik para kerabat masih terdengar di luar kamar. Padahal
jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ada yang masih bercanda ria di teras
depan, ada yang sibuk beramai-ramai membuat janur kuning di halaman rumah, para
ibu-ibu di dapur juga tampak masih belum selesai menyusun makanan-makanan yang
siap di olah besok.
Raisya masih terpaku di
kamarnya. Ia memandangi gaun putih yang tergantung di pintu lemari nya. Para
sahabat yang menginap di rumahnya saat itu juga sudah terlelap semua kecuali
Fitri. Fitri tau, Raisya belum tidur. Ia mengerti bagaimana perasaan Raisya
saat ini. Isma, dan Ulfa sudah terlelap tidur sejak tadi.
Fitri membalikkan tubuhnya
menghadap Raisya. Ia memeluk Raisya seakan ingin menenangkan perasaan
sahabatnya itu.
“Raisya, kenapa masih belum
tidur? Ini sudah jam berapa?” tanya Fitri
sembari menarik selimutnya.
“Aku tidak bisa tidur Fit.” jawab Raisya singkat.
“Aku tau apa yang sedang kamu
rasakan saat ini, karena aku sudah lebih dulu merasakannya saat aku menikah
setahun yang lalu.” tutur Fitri.
“Waktu kamu di posisi aku,
apa yang kamu lakuin agar bisa merasa tenang?” tanya Raisya penasaran.
Tiba-tiba Isma dan Ulfa
terbangun mendengar pembicaraan Raisya dan Fitri. Dan spontan membalikkan tubuh
mereka menghadap Raisya dan Fitri yang tidurnya di tengah-tengah.
“Eh lagi pada cerita apaan
sih? Curang deh, cerita ga ngajak-ngajak.” sungut Ulfa.
“Iya nih.” timpal Isma.
“Lagian kalian tidurnya pules
banget. Masa mau di bangunin?” elak Fitri.
“Udah-udah....” Raisya menengahi. “Jadi gimana Fit? Tentang pertanyaan ku yang tadi?”
Raisya kembali bertanya.
“Waktu itu, aku juga gelisah
banget, sama kayak kamu. Tapi akhirnya aku berfikir, buat apa aku memikirkan
kegelisahan menunggu hari esok, toh semuanya sudah pasti akan tejadi. Serah kan
semuanya pada Allah.” tutur Fitri menjelaskan.
“Ohh... Raisya lagi tegang
yah sekarang gara-gara mikirin acara besok?” terdengar
suara tawa renyah Ulfa, sembari ia kembali menarik selimutnya. “Aku juga
tegang waktu aku menikah dulu, tapi akhirnya aku bisa tertidur gara-gara
minum susu coklat sepuasnya malam itu.” Ulfa melanjutkan ceritanya.
“Sudahlah Raisya, jangan
terlalu di fikirkan. Lebih baik, sekarang kita tidur. Kan masih ada satu di
antara kita yang masih belum menikah.” Fitri
terkekeh, sambil melirik ke arah Isma, Ulfa pun melakukan hal yang sama.
“Apa , liat-liat? Tahun depan
juga insyaallah siap kok.” sungut Isma.
“Hehehe... Amin...” Ulfa mengaminkan.
“Hmmmm.... aku sudah merasa
agak lebih tenang sekarang. Makasih yah saran-sarannya. Kalian emang sahabat
aku yang paling the best deh.” Raisya
mencubit pipi sahabat-sahabatnya satu persatu lalu masuk ke dalam selimut.
Semua sahabat nya pun berteriak “Raisyaaa.....!!!!!” lalu mereka
menggelitiki Raisya dan tertawa bersama.
Jauh disana, seorang ikhwan
juga sedang terusik hatinya. Gelisah pun sedang melanda perasaannya malam ini,
memikirkan hari esok. Untunglah ia sudah merasa mantab setelah berulang kali
berlatih mengucapkan kalimat janji suci itu. Ia menghafalnya dan berlatih
sungguh-sungguh. Ia bertekad dalam hatinya, akan mengucapkan ijab kabul itu
hanya satu kali. Ia ingin melakukan yang terbaik, untuk seseorang yang di
cintainya selama tiga tahun.
***
Malam berganti pagi. Fitri,
Isma dan Ulfa sudah pulang tadi subuh ke rumah masing-masing. Ulfa dan Fitri di
jemput oleh suami mereka, sedangkan Isma di jemput kakaknya.
Jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Tapi
di rumah Raisya sudah tampak sibuk sekali mempersiapkan segala sesuatunya.
Beberapa orang sedang mengangkut makanan-makanan ke dalam mobil untuk di antar
ke Masjid Al-Alkbar untuk acara pernikahan. Ada juga yang sedang sibuk
menggelar tikar di ruang tamu.
Selesai mandi, Raisya kembali
memandangi gaun putih itu. Ia memakainya, dan duduk di depan meja rias.
Dilihatnya juga sekeliling kamarnya yang telah di hiasi bunga-bunga mawar putih.
Semuanya serba putih. “Hari ini, aku akan menjadi seorang pengantin.” Begitu
hatinya membatin. Di pandangi nya terus kaca yang memperlihatkan kecantikan
seorang muslimah yang sebentar lagi akan meraih pangkat seorang istri.
Ibunya masuk ke dalam kamarnya,
dan melihat putrinya dengan tatapan bahagia yang luar biasa. Ia memeluk
putrinya dari belakang. Ia menangis. Raisya bingung melihat sikap ibunya.
“Ibu, kenapa ibu menangis?” tanya Raisya bingung.
“Ibu tidak menangis, sayang.
Ibu bahagia, akhirnya hari ini datang juga. Tidak terasa sebentar lagi kamu
akan menjadi seorang istri.” Ibu nya
melepaskan pelukannya.
“Ibu tenang saja, walaupun
sebentar lagi Raisya akan menjadi istri, Raisya tidak akan meninggalkan ibu.
Raisya akan tetap disini.”
“Tidak, nak. Kamu harus ikut
kemana pun suamimu akan membawamu. Itu adalah tugas dari seorang istri. Masih
ada adik-adikmu yang akan menemani ibu. Nanti rumah ini juga akan lebih ramai
kalau ibu sudah punya cucu dari kamu nanti.”
Ibunya berusaha menghibur
hatinya sendiri, walau sebenarnya ia juga berat melepaskan putrinya. tapi
itulah tugas sebagai orang tua. Suka tidak suka, mau tidak mau, tetap saja
orang tua harus melepaskan anaknya jika sudah tiba waktunya menikah.
“Sebentar ya, ibu panggilkan
perias pengantinnya dulu. Nanti ibu kesini lagi. Jam tujuh nanti kita harus
sudah berada di Masjid Al-Akbar.” ujar ibunya
sembari keluar dari kamar Raisya. Tak lama kemudian, masuklah seorang ibu muda
yang bertugas menjadi perias pengantin, untuk mendandani Raisya.
Satu jam berlalu, jam pun
telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Raisya telah siap dengan gaun
putih bersih dan jilbab dengan warna senada yang panjang membaluti di setiap
tubuh nya. Raisya sangat cantik. Hati dan imannya juga tidak kalah cantik dari
wajah nya yang putih bersih.
Sahabatnya yang menginap di
rumahnya tadi malam, juga sudah berkumpul kembali dengannya. Tentu saja untuk
ikut mengantarnya menuju gerbang pernikahan di Masjid Al-Akbar. Raisya sangat
gugup saat berada di dalam mobil menuju
Masji Al-Akbar diiringi oleh para kerabat dan sahabat yang menggunakan mobil
lain. Raisya di temani oleh kedua orang tuanya.
Apa mas Asyam juga gugup
seperti ku? Apa mas Asyam juga deg-degan seperti yang saat ini aku rasakan?
Raisya membatin. Sepanjang perjalanan menuju Masjid Al-Akbar, Raisya selalu
bertasbih untuk menenangkan hatinya yang sedang kalut, juga di sertai rasa
bahagia tentunya. Karena ia tidak pernah menyangka, bahwa dia akan menikah
dengan lelaki yang selama ini dia cintai, dan juga mencintainya.
Hari ini telah datang,
pikirnya.
Sesampainya di lokasi Masjid
Al-Akbar, dimana akad nikah nya akan dilaksanakan disana, tampak ramai sekali.
Sepertinya hampir seluruh para undangan telah hadir memenuhi Masjid Al-Akbar.
Masjid itu sangat indah sekali. Karena sudah di hias sedemikian rupa oleh para
kerabat-kerabat yang membantu berlangsung nya acara tersebut. Semuanya serba
putih pagi ini. Di pintu masuk, tampak bunga-bunga mawar putih yang menghiasi,
begitu juga didalam nya. Pakaian pengantin juga berwarna serupa. Sungguh indah
menyejukkan mata.
Raisya beserta kerabat, masuk
ke dalam Masjid. Tapi Raisya sengaja di tempatkan di ruangan yang tertutup tak
jauh dari para undangan yang duduk di belakang. Ia duduk di dalam sebuah
kelambu, di hiasi bunga-bunga indah berwarna putih yang telah di siapkan untuk
pengantin perempuan. Ia duduk bersama sahabat-sahabatnya. Memang begitu lah
adatnya, pengantin perempuan baru akan keluar, setelah terdengar kata “sah”
dari mulut para saksi yang akan menyaksikan ijab kabul tersebut.
Sepuluh menit setelah
kedatangan Raisya dan kerabatnya, barulah muncul si pengantin lelaki bersama
kedua orang tuanya dan para kerabat yang menyertainya. Sungguh tampan dan
gagahnya si pengantin lelaki mengenakan jas putih dan kopiah putih,
sampai-sampai para tamu undangan terkesima melihatnya. Pengantin lelaki
langsung masuk dan duduk di tempat yang telah di sediakan.
Setelah mendengar kata sambutan
dan beberapa do’a yang di lantunkan oleh Kyai Bahir Bathalathun El-Basil,
akhirnya sampai lah pada acara ijab kabulnya. Ini lah yang telah di
tunggu-tunggu oleh para tamu undangan dan kedua orang tua mempelai tentunya.
Yang menjadi penghulu adalah ayah dari mempelai wanita sendiri, yaitu Hj. Ataya
Rafiq. Ayahanda dari Raisya Siddqia.
Mempelai lelaki langsung
berjabat tangan dengan ayah Raisya untuk melangsungkan ijab kabul.
“Bissmilahir rahmanir
rahim... Ananda Asyam Arifin, aku nikahkan engkau dengan putri kandung ku
Raisya Siddqia, dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat di bayar
tunai..!!”
“Saya terima nikahnya Raisya
Siddqia binti Hj. Ataya Rafiq, dengan mas kawin seperangkat alat sholat, di
bayar tunai.!”
“Bagaimana para saksi?
Sah?”
Para saksi menjawab dengan
kompak nya... “Saahhh...”
Puji syukur pun langsung
terlontar dari hati dan lisan Asyam, si mempelai lelaki. Kini ia telah resmi
menjadi seorang suami setelah terdengar kata “sah” dari para saksi.
Mempelai wanita tidak kalah senangnya. Ucapan syukur tak henti-hentinya ia
ucapkan mengingat betapa bahagianya dia telah sah menjadi seorang istri. Rasa
gugupnya telah hilang, karena ia telah mendengar ucapan ijab kabul yang di
lontarkan Asyam dengan penuh semangat dan tidak salah satu kalimat pun.
Kyai Bahir Bathalathun
El-Basil pun langsung membimbing seluruh para tamu undangan dan para saksi
untuk mengucapkan do’a yang telah di ajarkan oleh Rasulullah Saw.
“Barakallahu laka wa baraka alaika
wa jama’a bainakuma fi khair..”
Masjid pun bergema oleh suara
do’a-do’a seluruh orang yang hadir di akad nikah tersebut. Seketika suasana
Masjid terasa sangat sejuk dan mendamaikan hati. Raisya dan Asyam yakin, para
malaikat Allah juga menyaksikan pernikahan mereka dan mendoakan mereka agar
menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah...
Tiba saatnya mempelai wanita
keluar dari kelambunya dan duduk di sebelah lelaki yang sudah sah menjadi
suaminya. Dengan malu-malu dia menyalami suaminya dan suaminya mencium
keningnya. Rasa bahagia yang tak terkira Raisya rasakan saat itu. Rasa bahagia
yang tak dapat di lukiskan walau dengan berjuta lukisan paling indah sekalipun.
Raisya pun memberikan senyuman yang paling indah untuk suaminya tercinta.
Mereka telah berhasil.
Menikah tanpa harus pacaran. Menikah tanpa harus pendekatan. Menikah tanpa
pernah berbuat maksiat yang di benci oleh Allah Swt. Mereka menikah dengan cara
mengikuti ajaran agama, yaitu dengan cara berta’aruf. Mereka saling mengenal
saat kebetulan mereka bersama-sama menghadiri acara Tabligh Akbar di Masjid
Al-Akbar ini. Lalu tanpa di duga, sebulan setelah acara Tabligh Akbar itu,
Asyam dan kedua orang tuanya datang mengkhitbah Raisya. Dan disini lah
kembalinya mereka di pertemukan dan disandingkan dengan penuh rahmat oleh Allah
Swt.
Selesai
Karya: Devi Sarwani
Fb: Devi Andriawan ~ Twitter: @DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca
buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara