Cerpen Islami
“Keyakinan
Akan Janji-Mu”
Sedari tadi gerimis
tak kunjung berhenti menaungi sore ini. Udara terasa sejuk. Matahari senja
sedang melukis pelangi di ufuk barat sana hingga spektrumnya terpancar masuk ke
dalam kamar seorang gadis. Membentuk sejuta hati yang gelisah, di rundung cemas
di pagut kegelisahan yang kian menderu.
Namanya Alila. Tercatat
sebagai mahasiswi disalah satu universitas Islam di Kota metropolitan itu. Ia
adalah gadis yang sholehah, patuh kepada orang tua, takut terhadap Allah Swt
dan cinta akan Nabi nya. Seorang makhluk yang hampir mencapai kesempurnaan
dalam segi akademik dan religinya, dan juga pada fisiknya.
Alila, mempunyai
wajah yang cantik nan teduh dengan mata yang bulat. Ia sangat pandai dalam
berkomunikasi menggunakan bahasa inggris, fasih dalam membaca Al-Qur’an, sholat
5 kali di awal waktu, dan hobby nya adalah berpuasa di hari senin.
Banyak para ikhwan
yang berlomba ingin mendapatkan hati gadis ini. Ada yang langsung datang
mengkhitbah kerumahnya, ada pula yang langsung mengutarakan dihadapannya secara
langsung. Namun Alila bukanlah gadis yang mudah didapatkan. Sebagai mahasiswi
yang sudah lulus S1 fakultas Pendidikan Agama Islam, Alila tentu mempunyai
beberapa kriteria tentang ikhwan yang tepat untuk menjadi calon suaminya dan
calon ayah dari anak-anaknya kelak.
Sudah banyak para
ikhwan yang datang mengkhitbah, tapi semua ditolaknya. Karena banyak diantara
para ikhwan itu yang cara membaca Al-Qur’annya tidak lancar. Mereka hanya
mengandalkan modal kekayaan dan martabat semata untuk mendapatkan hati Alila.
Orang tua Alila memberi kepercayaan dan kebebasan pada Alila untuk memilih
calon suami seperti apa yang ia inginkan. Mereka tau, putri semata wayang
mereka itu tentu tidak akan salah memilih pasangan hidup.
Sampai pada suatu
ketika, datang lima orang ikhwan yang datang bersamaan dengan maksud ingin
mengkhitbah. Alila langsung menguji mereka dengan meminta mereka membaca
Al-Qur’an langsung di hadapannya. Satu dari lima orang tersebut tidak lancar
baca Al-Qur’an nya. Tersisa lah empat orang yang masih bertahan.
Alila memberi ujian
lagi kepada empat ikhwan tersebut. Ia meminta mereka untuk membaca tujuh surah
secara lisan beserta artinya. Satu ikhwan tidak berhasil lolos dari ujian
tersebut. Tersisalah tiga ikhwan yang masih bertahan.
Alila menyuruh mereka
datang kembali esok hari dan menyuruh mereka membawakan sesuatu untuknya.
2 Esoknya, datanglah tiga ikhwan itu ke rumah Alila.
Alila pun bertanya, apa yang mereka bawakan untukknya.
Ikhwan pertama
menjawab sembari mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. “Saya membawa kunci mobil ini. Mobil itu akan
saya berikan pada ukhty Alila, jika ukhty mau menerima pinangan saya.”
Tampak tak ada reaksi
apa-apa dari Alila mengenai jawaban sang ikhwan yang pertama. Lalu bertanyalah ia
pada ikhwan yang kedua, dan ikhwan itu menjawab, “Saya membawakan kunci rumah
baru ini. Rumah yang baru saya beli untuk saya persembahkan pada ukhty Alila.”
Masih tak ada reaksi
apa-apa dari Alila. Ia pun langsung bertanya pada ikhwan yang ketiga perihal
apa yang ia bawakan untuknya. Ikhwan tersebut menjawab sembari mengeluarkan
sebuah kantong plastik berwarna ungu muda. “Ini mukenah, untuk ukhty Alila.
Saya tidak ingin ukhty meninggalkan sholat walaupun hanya satu waktu saja.”
ujarnya.
Alila tersenyum mendengar
jawaban dari ikhwan yang ketiga ini dan menerima pemberiannya. Alila pun
menyuruh mereka pulang lagi kerumah masing-masing. Sebenarnya ia sudah yakin
ingin memilih ikhwan yang ketiga. Akan tetapi biar lebih yakin dan bisa memantapkan
hatinya, ia ingin memberi ujian lagi kepada mereka bertiga.
Tiga hari kemudian,
datanglah ketiga pemuda itu lagi ke rumah Alila. Kini masing-masing ikhwan di
dampingi oleh orang tua mereka. Namun Alila tidak keluar, Ummi dan Abi nya yang
keluar. Dengan wajah yang dipenuhi rasa kesedihan, Ummi Alila pun berkata pada
mereka.
“Afwan, Alila sedang
tidak bisa ditemui. Kemarin sore Alila mendapat musibah di jalan saat menuju
pulang ke rumah. Kakinya patah dan Alila tidak bisa berjalan tanpa kursi
roda..”
Mereka semua pun
terkejut mendengar penuturan dari Ummi Alila ini. Dua ikhwan beserta orang tua
mereka langsung pulang setelah mendengar bahwa kaki Alila patah dan tak bisa
berjalan tanpa kursi roda. Sementara itu, ada satu ikhwan yang masih bersikukuh
dan tidak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya.
Ummi Alila pun
bingung melihat pemuda yang masih tak bergeming ini. Padahal ikhwan yang lain
sudah pulang semua.
“Nak Fathan, masih
ingin melanjutkan khitbah ini? Setelah tau bagaimana kondisi Alila sekarang?”
tanya Ummi Alila.
“Ibu, bagaimana pun
keadaan Alila, sehat atau pun sakit, susah atau pun senang, saya sudah dari awal
berniat mengkhitbahnya. Saya mengkhitbahnya karena hati saya dituntun oleh
Allah untuk menyukainya dari awal saya bertemu dengannya. Bukan karena
fisiknya. Keyakinan saya terhadap rencana Allah Swt tidak akan goyah.”
ikhwan itu menjawab dengan pasti.
Alila yang mendengar
pembicaraan mereka dari dalam kamarnya, langsung mengucap syukur kepada Allah
Swt. Ternyata masih ada lelaki yang mencintai seorang gadis bukan hanya karena
fisik, tapi karena ketulusan hatinya.
Alila pun langsung
keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu. Fathan sangat terkejut melihat Alila
yang sehat wal’afiat. Tak kurang suatu apapun, dan kakinya baik-baik saja. Alila
duduk di antara kedua orang tuanya.
“Nak Fathan, Alila
sebenarnya tidak sakit atau pun kecelakaan. Dia sengaja berbuat seperti ini
agar dia yakin, calon suami mana yang pantas menjadi pendamping dan imam nya
kelak. Yang bisa menerima keadaannya apa adanya.”
tutur Abi Alila.
Jelas rasa lega
terbias di raut wajah Fathan dan kedua orang tuanya. Inilah hadiah terindah
yang diberikan Allah kepada Fathan atas jerih payahnya mempertahankan
keyakinannya pada Allah dan tak merubah keputusannya untuk tidak jadi
mengkhitbah Alila.
Kini, ia mendapat
manisnya hasil dari ujian dan penantiannya terhadap Alila. Gadis yang selama
ini menjadi dambaan hati para ikhwan di kampus. Akhirnya ia yang mendapatkan Alila,
karena ketulusan hatinya dan keyakinan akan janji-Nya, sang Maha membolak
balikkan hati makhluk ciptaan-Nya.
Selesai
Karya: Devi Sarwani
@Fb: Ukhti Vivie @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan
membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara