Assalamu'alaikum Wr.Wb
Siapa Saja Yang Doanya Mustajab ?
1.) Setiap muslim yang berdoa bagi
saudaranya sesama muslim dari kejauhan.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tidak seorang muslimpun berdoa dari kejauhan untuk
saudaranya muslim lainnya, melainkan malaikat “petugas/penjaga” akan berucap:
Aamiin, dan engkaupun akan mendapatkan yang seperti (isi doamu) itu pula” (HR.
Muslim dari sahabat Abud-Darda’ ra.).
2.) Doa orang yang terdzalimi/teraniaya.
Salah
satu pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat Mu’adz bin
Jabal ra. saat diutus untuk berdakwah ke Yaman ialah sabda beliau (yang
artinya): “Dan waspadalah terhadap doa orang yang terdzalimi. Karena tidak ada
hijab penghalang antara doanya itu dan Allah” (HR. Al-Bukhari).
3.) Doa seorang musafir.
4.) Doa orang tua untuk anaknya.
Berupa
doa baik atau doa buruk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang
artinya): “Ada tiga doa yang mustajab, tanpa keraguan didalamnya: Doa orang
yang terdzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya” (HR.
At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani).
5.) Doa anak yang saleh untuk kedua
orang tuanya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Apabila seseorang
meninggal, maka terputuslah (pahala) amalnya, kecuali dari tiga jalur amal:
amal sedekah jariyah, ilmu yang tetap dimanfaatkan, dan anak saleh yang
mendoakannya” (HR. Muslim).Dan di dalam hadits lain: “Sesungguhnya Allah akan
meninggikan derajat seorang hamba yang saleh di Surga, sampai sang hamba itu
berkata: Ya Rabbi, bagaimana aku bisa mendapatkan derajat setinggi ini? Maka
Allah menjawab: Itu berkat doa istighfar putramu untukmu!” (HR. Ahmad, dan
sanadnya dishahihkan oleh Ibnu Katsir).
6.) Doa orang yang sedang berpuasa
sampai berbuka.
7.) Doa pemimpin yang adil.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tiga orang yang doanya
tidak tertolak adalah: orang yang sedang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang
adil, dan doa orang yang terdzalimi/teraniaya. Allah mengangkatnya ke atas
awan, dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan Allah berfirman (yang artinya):
“Demi keagungan-Ku, pasti Aku akan menolongmu meski setelah beberapa waktu”
(HR. At-Tirmidzi dan lainnya, dan dishahihkan oleh Al-Albani).
8.) Doa orang mudhtharr (yang
sedang dalam kesulitan, terhimpit, terdesak atau kepepet).
Allah
Ta’ala berfirman (yang artinya): “Atau siapakah (selain Allah) yang mengabulkan
(doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang
menghilangkan kesusahan…?” (QS. An-Naml: 62).
9.) Orang yang tidur dalam kedaan suci (berwudhu, insya-allah termasuk yang
dalam keadaan junub dan berhalangan sekalipun) dan berdzikir kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang
artinya): “Tidak seorang muslimpun tidur malam dengan berdzikir kepada Allah
dan dalam keadaan suci (berwudhu dan berdzikir sebelum tidur), lalu terbangun
pada malam hari dan berdoa kepada Allah memohon kebaikan dunia dan akherat, melainkan
Allah akan memberikan kepadanya apa yang dipintanya itu” (HR. Abu Dawud dan
Ahmad, serta dishahihkan oleh Al-Albani).
10.) Orang yang berdoa dengan wasilah doa Nabi
Yunus ‘alaihis-salam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Doa
Dzun-Nun (Nabi Yunus as.) yang dibaca saat berada di dalam perut ikan ialah:
“La ilaha illa Anta, subhanaka, inni kuntu minadz-dzalimin [Tiada tuhan yang
berhak diibadahi secara benar kecuali hanya Engkau. Maha sucilah Engkau. Sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang dzalim/aniaya] – QS.
Al-Anbiyaa’: 87-88). Sesungguhnya tidak seorang muslimpun berdoa dengan wasilah
doa tersebut dalam hal apapun, kecuali Allah akan mengabulkannya” (HR.
At-Tirmdzi dan lainnya dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash ra, dan dishahihkan
oleh Al-Albani).
11.) Doa orang yang berdzikir saat terbangun di
tengah malam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang
artinya): “Barangsiapa terbangun di tengah malam lalu membaca dzikir ini: La
ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa Huwa
‘ala kulli syai-in qadir. Alhamdu lillah, wa subhanallah, wa la ilaha illallah,
wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billah (Tiada tuhan yang berhak
diibadahi dengan benar selain Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.
Milik-Nya seluruh kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah. Tiada tuhan yang benar kecuali
Allah. Allah Maha Besar. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan
Allah). Kemudian ia membaca istighfar: Allahummaghfirli (ya Allah ampunkanlah
daku), atau berdoa dengan doa apapun. (Barangsiapa yang membaca dzikir tersebut
lalu berdoa), maka doanya akan dikabulkan. Sedangkan yang lebih semangat lagi, lalu
berwudhu (dan shalat), maka shalatnya diterima” (QS. Al-Bukhari).
12.) Doa jamaah haji.
13.) Doa jamaah umrah.
14.) Doa mujahid yang berperang di jalan
Allah.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Mujahid yang berperang
di jalan Allah, jamaah haji dan jamaah umrah, adalah tamu Allah. Dia (Allah)
mengundang mereka (untuk berjihad, berhaji dan berumrah), lalu merekapun
menyambut undangan. Maka jika mereka berdoa memohon kepada-Nya, Dia-pun akan
memenuhi doa permohonan mereka” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Albani).
15.) Doa ahli dzikir (orang yang banyak berdzikir
kepada Allah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tiga
orang yang (termasuk) doanya tidak tertolak adalah: orang yang banyak berdzikir
kepada Allah, doa orang yang terdzalimi, dan pemimpin yang adil” (HR.
Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani, dan dihasankan oleh Al-Albani).
16.) Doa waliyyullah (seorang mukmin yang telah
sampai derajat dicintai oleh Allah karena derajat ketaatan dan kesalehannya
yang tinggi serta istimewa).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya Allah
Ta’ala berfirman (dalam hadits qudsi – yang artinya): “Barangsiapa yang
memusuhi seorang wali-Ku, maka Aku-pun memusuhinya. Dan tiada cara taqarrub
(pendekatan diri) kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain dengan melakukan
apa-apa yang Aku wajibkan. Dan (setelah yang wajib dan fardhu itu) hamba-Ku
akan terus ber-taqarrub kepada-Ku melalui amal-amal nafilah (sunnah), sampai
Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengaran
untuk ia mendengar, penglihatan untuk ia melihat, tangan untuk ia beraktifitas,
dan kaki untuk ia berjalan. Apabila ia meminta kepada-Ku, pasti Aku penuhi
permintaannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi…”
(HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah ra.).
Selain
itu sebenarnya setiap muslim atau muslimah siapapun dia tetap berpotensi doanya
juga mustajab, selama syarat-syarat pengkabulannya terpenuhi, serta unsur-unsur
penghalangnya terhindari. Apalagi jika ditepatkan dengan faktor-faktor
pengijabahan doa, seperti waktu-waktu mustajab, tempat-tempat mustajab,
situasi-situasi dan kondisi-kondisi mustajab, dan lain-lain. Perhatikan
misalnya beberapa contoh firman Allah Ta’ala dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam berikut ini:
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang (siapapun dia) yang berdoa
apabila ia (benar-benar) berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi
(perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam petunjuk” (QS. Al-Baqarah: 186).
“Dan
Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan (doa)
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong diri dari beribadah (berdoa)
kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS.
Al-Mukmin/Ghaafir: 60).
“Berdoalah
kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah
tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah
ra.).
“Doa
seorang hamba senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan
dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa.” Seorang
sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa? ‘
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Yang dimaksud dengan
tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan; ‘Aku telah berdoa
dan terus berdoa tetapi tidak kunjung dikabulkan juga’. Setelah itu, iapun
merasa putus asa (mutung) dan tidak mau berdoa lagi.’ (HR. Muslim dari Abu
Hurairah ra.).
“Tidak
ada seorang muslimpun yang berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa atau
pemutusan tali silaturrahim, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan;
disegerakan pengabulan doanya (di dunia ini), atau disimpan pahalanya baginya
(untuk diberikan) di akhirat kelak, atau ia dijauhkan dari keburukan yang
setara nilainya (dengan yang dipinta)”. Para sahabat berkata: “Jika demikian
kita perbanyak (berdoa yang banyak) saja”, beliau bersabda: “Allah memiliki
yang lebih banyak (sebagai balasan dan pengkabulan” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
Shukran bagi yang sudah
membaca, semoga bermanfaat. :-)
Zadanallah ilman wa
hirsha .....
Wassalamu'alaikum Wr.Wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar