Jumat, 10 Oktober 2014

Cerpen Islami



“Hari Ini Telah Datang”

     Malam ini Raisya tidak bisa tidur. Suara-suara berisik para kerabat masih terdengar di luar kamar. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ada yang masih bercanda ria di teras depan, ada yang sibuk beramai-ramai membuat janur kuning di halaman rumah, para ibu-ibu di dapur juga tampak masih belum selesai menyusun makanan-makanan yang siap di olah besok. 

     Raisya masih terpaku di kamarnya. Ia memandangi gaun putih yang tergantung di pintu lemari nya. Para sahabat yang menginap di rumahnya saat itu juga sudah terlelap semua kecuali Fitri. Fitri tau, Raisya belum tidur. Ia mengerti bagaimana perasaan Raisya saat ini. Isma, dan Ulfa sudah terlelap tidur sejak tadi. 

     Fitri membalikkan tubuhnya menghadap Raisya. Ia memeluk Raisya seakan ingin menenangkan perasaan sahabatnya itu.

     “Raisya, kenapa masih belum tidur? Ini sudah jam berapa?” tanya Fitri sembari menarik selimutnya.

     “Aku tidak bisa tidur Fit.” jawab Raisya singkat.

     “Aku tau apa yang sedang kamu rasakan saat ini, karena aku sudah lebih dulu merasakannya saat aku menikah setahun yang lalu.” tutur Fitri.

     “Waktu kamu di posisi aku, apa yang kamu lakuin agar bisa merasa tenang?” tanya Raisya penasaran.

     Tiba-tiba Isma dan Ulfa terbangun mendengar pembicaraan Raisya dan Fitri. Dan spontan membalikkan tubuh mereka menghadap Raisya dan Fitri yang tidurnya di tengah-tengah.

     “Eh lagi pada cerita apaan sih? Curang deh, cerita ga ngajak-ngajak.” sungut Ulfa.

     “Iya nih.” timpal Isma.

     “Lagian kalian tidurnya pules banget. Masa mau di bangunin?” elak Fitri.

     “Udah-udah....” Raisya menengahi. “Jadi gimana Fit? Tentang pertanyaan ku yang tadi?” Raisya kembali bertanya.

     “Waktu itu, aku juga gelisah banget, sama kayak kamu. Tapi akhirnya aku berfikir, buat apa aku memikirkan kegelisahan menunggu hari esok, toh semuanya sudah pasti akan tejadi. Serah kan semuanya pada Allah.” tutur Fitri menjelaskan.

     “Ohh... Raisya lagi tegang yah sekarang gara-gara mikirin acara besok?” terdengar suara tawa renyah Ulfa, sembari ia kembali menarik selimutnya. “Aku juga tegang waktu aku menikah dulu, tapi akhirnya aku bisa tertidur gara-gara minum susu coklat sepuasnya malam itu.” Ulfa melanjutkan ceritanya.

     “Sudahlah Raisya, jangan terlalu di fikirkan. Lebih baik, sekarang kita tidur. Kan masih ada satu di antara kita yang masih belum menikah.” Fitri terkekeh, sambil melirik ke arah Isma, Ulfa pun melakukan hal yang sama.

     “Apa , liat-liat? Tahun depan juga insyaallah siap kok.” sungut Isma.

     “Hehehe... Amin...” Ulfa mengaminkan.

     “Hmmmm.... aku sudah merasa agak lebih tenang sekarang. Makasih yah saran-sarannya. Kalian emang sahabat aku yang paling the best deh.” Raisya mencubit pipi sahabat-sahabatnya satu persatu lalu masuk ke dalam selimut. Semua sahabat nya pun berteriak “Raisyaaa.....!!!!!” lalu mereka menggelitiki Raisya dan tertawa bersama.

     Jauh disana, seorang ikhwan juga sedang terusik hatinya. Gelisah pun sedang melanda perasaannya malam ini, memikirkan hari esok. Untunglah ia sudah merasa mantab setelah berulang kali berlatih mengucapkan kalimat janji suci itu. Ia menghafalnya dan berlatih sungguh-sungguh. Ia bertekad dalam hatinya, akan mengucapkan ijab kabul itu hanya satu kali. Ia ingin melakukan yang terbaik, untuk seseorang yang di cintainya selama tiga tahun.

***

     Malam berganti pagi. Fitri, Isma dan Ulfa sudah pulang tadi subuh ke rumah masing-masing. Ulfa dan Fitri di jemput oleh suami mereka, sedangkan Isma di jemput kakaknya.
Jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Tapi di rumah Raisya sudah tampak sibuk sekali mempersiapkan segala sesuatunya. Beberapa orang sedang mengangkut makanan-makanan ke dalam mobil untuk di antar ke Masjid Al-Alkbar untuk acara pernikahan. Ada juga yang sedang sibuk menggelar tikar di ruang tamu.

     Selesai mandi, Raisya kembali memandangi gaun putih itu. Ia memakainya, dan duduk di depan meja rias. Dilihatnya juga sekeliling kamarnya yang telah di hiasi bunga-bunga mawar putih. Semuanya serba putih. “Hari ini, aku akan menjadi seorang pengantin.” Begitu hatinya membatin. Di pandangi nya terus kaca yang memperlihatkan kecantikan seorang muslimah yang sebentar lagi akan meraih pangkat seorang istri.

     Ibunya masuk ke dalam kamarnya, dan melihat putrinya dengan tatapan bahagia yang luar biasa. Ia memeluk putrinya dari belakang. Ia menangis. Raisya bingung melihat sikap ibunya. 

     “Ibu, kenapa ibu menangis?” tanya Raisya bingung.

     “Ibu tidak menangis, sayang. Ibu bahagia, akhirnya hari ini datang juga. Tidak terasa sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri.” Ibu nya melepaskan pelukannya. 

     “Ibu tenang saja, walaupun sebentar lagi Raisya akan menjadi istri, Raisya tidak akan meninggalkan ibu. Raisya akan tetap disini.”

     “Tidak, nak. Kamu harus ikut kemana pun suamimu akan membawamu. Itu adalah tugas dari seorang istri. Masih ada adik-adikmu yang akan menemani ibu. Nanti rumah ini juga akan lebih ramai kalau ibu sudah punya cucu dari kamu nanti.” 

     Ibunya berusaha menghibur hatinya sendiri, walau sebenarnya ia juga berat melepaskan putrinya. tapi itulah tugas sebagai orang tua. Suka tidak suka, mau tidak mau, tetap saja orang tua harus melepaskan anaknya jika sudah tiba waktunya menikah.

     “Sebentar ya, ibu panggilkan perias pengantinnya dulu. Nanti ibu kesini lagi. Jam tujuh nanti kita harus sudah berada di Masjid Al-Akbar.” ujar ibunya sembari keluar dari kamar Raisya. Tak lama kemudian, masuklah seorang ibu muda yang bertugas menjadi perias pengantin, untuk mendandani Raisya. 

     Satu jam berlalu, jam pun telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Raisya telah siap dengan gaun putih bersih dan jilbab dengan warna senada yang panjang membaluti di setiap tubuh nya. Raisya sangat cantik. Hati dan imannya juga tidak kalah cantik dari wajah nya yang putih bersih. 

     Sahabatnya yang menginap di rumahnya tadi malam, juga sudah berkumpul kembali dengannya. Tentu saja untuk ikut mengantarnya menuju gerbang pernikahan di Masjid Al-Akbar. Raisya sangat gugup saat berada di dalam mobil  menuju Masji Al-Akbar diiringi oleh para kerabat dan sahabat yang menggunakan mobil lain. Raisya di temani oleh kedua orang tuanya. 

     Apa mas Asyam juga gugup seperti ku? Apa mas Asyam juga deg-degan seperti yang saat ini aku rasakan? Raisya membatin. Sepanjang perjalanan menuju Masjid Al-Akbar, Raisya selalu bertasbih untuk menenangkan hatinya yang sedang kalut, juga di sertai rasa bahagia tentunya. Karena ia tidak pernah menyangka, bahwa dia akan menikah dengan lelaki yang selama ini dia cintai, dan juga mencintainya. 

     Hari ini telah datang, pikirnya. 

     Sesampainya di lokasi Masjid Al-Akbar, dimana akad nikah nya akan dilaksanakan disana, tampak ramai sekali. Sepertinya hampir seluruh para undangan telah hadir memenuhi Masjid Al-Akbar. Masjid itu sangat indah sekali. Karena sudah di hias sedemikian rupa oleh para kerabat-kerabat yang membantu berlangsung nya acara tersebut. Semuanya serba putih pagi ini. Di pintu masuk, tampak bunga-bunga mawar putih yang menghiasi, begitu juga didalam nya. Pakaian pengantin juga berwarna serupa. Sungguh indah menyejukkan mata.

     Raisya beserta kerabat, masuk ke dalam Masjid. Tapi Raisya sengaja di tempatkan di ruangan yang tertutup tak jauh dari para undangan yang duduk di belakang. Ia duduk di dalam sebuah kelambu, di hiasi bunga-bunga indah berwarna putih yang telah di siapkan untuk pengantin perempuan. Ia duduk bersama sahabat-sahabatnya. Memang begitu lah adatnya, pengantin perempuan baru akan keluar, setelah terdengar kata “sah” dari mulut para saksi yang akan menyaksikan ijab kabul tersebut. 

     Sepuluh menit setelah kedatangan Raisya dan kerabatnya, barulah muncul si pengantin lelaki bersama kedua orang tuanya dan para kerabat yang menyertainya. Sungguh tampan dan gagahnya si pengantin lelaki mengenakan jas putih dan kopiah putih, sampai-sampai para tamu undangan terkesima melihatnya. Pengantin lelaki langsung masuk dan duduk di tempat yang telah di sediakan. 

     Setelah mendengar kata sambutan dan beberapa do’a yang di lantunkan oleh Kyai Bahir Bathalathun El-Basil, akhirnya sampai lah pada acara ijab kabulnya. Ini lah yang telah di tunggu-tunggu oleh para tamu undangan dan kedua orang tua mempelai tentunya. Yang menjadi penghulu adalah ayah dari mempelai wanita sendiri, yaitu Hj. Ataya Rafiq. Ayahanda dari Raisya Siddqia. 

     Mempelai lelaki langsung berjabat tangan dengan ayah Raisya untuk melangsungkan ijab kabul. 

     “Bissmilahir rahmanir rahim... Ananda Asyam Arifin, aku nikahkan engkau dengan putri kandung ku Raisya Siddqia, dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat di bayar tunai..!!”

     “Saya terima nikahnya Raisya Siddqia binti Hj. Ataya Rafiq, dengan mas kawin seperangkat alat sholat, di bayar tunai.!”

     “Bagaimana para saksi? Sah?” 

     Para saksi menjawab dengan kompak nya... “Saahhh...”

     Puji syukur pun langsung terlontar dari hati dan lisan Asyam, si mempelai lelaki. Kini ia telah resmi menjadi seorang suami setelah terdengar kata “sah” dari para saksi. Mempelai wanita tidak kalah senangnya. Ucapan syukur tak henti-hentinya ia ucapkan mengingat betapa bahagianya dia telah sah menjadi seorang istri. Rasa gugupnya telah hilang, karena ia telah mendengar ucapan ijab kabul yang di lontarkan Asyam dengan penuh semangat dan tidak salah satu kalimat pun.

     Kyai Bahir Bathalathun El-Basil pun langsung membimbing seluruh para tamu undangan dan para saksi untuk mengucapkan do’a yang telah di ajarkan oleh Rasulullah Saw.

     “Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khair..”

     Masjid pun bergema oleh suara do’a-do’a seluruh orang yang hadir di akad nikah tersebut. Seketika suasana Masjid terasa sangat sejuk dan mendamaikan hati. Raisya dan Asyam yakin, para malaikat Allah juga menyaksikan pernikahan mereka dan mendoakan mereka agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah...

     Tiba saatnya mempelai wanita keluar dari kelambunya dan duduk di sebelah lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Dengan malu-malu dia menyalami suaminya dan suaminya mencium keningnya. Rasa bahagia yang tak terkira Raisya rasakan saat itu. Rasa bahagia yang tak dapat di lukiskan walau dengan berjuta lukisan paling indah sekalipun. Raisya pun memberikan senyuman yang paling indah untuk suaminya tercinta. 

     Mereka telah berhasil. Menikah tanpa harus pacaran. Menikah tanpa harus pendekatan. Menikah tanpa pernah berbuat maksiat yang di benci oleh Allah Swt. Mereka menikah dengan cara mengikuti ajaran agama, yaitu dengan cara berta’aruf. Mereka saling mengenal saat kebetulan mereka bersama-sama menghadiri acara Tabligh Akbar di Masjid Al-Akbar ini. Lalu tanpa di duga, sebulan setelah acara Tabligh Akbar itu, Asyam dan kedua orang tuanya datang mengkhitbah Raisya. Dan disini lah kembalinya mereka di pertemukan dan disandingkan dengan penuh rahmat oleh Allah Swt. 

Selesai 

Karya: Devi Sarwani
Fb: Devi Andriawan  ~ Twitter: @DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar