Rabu, 29 Oktober 2014

Cerpen Islami



Cerpen Islami
“Keyakinan Akan Janji-Mu”

Sedari tadi gerimis tak kunjung berhenti menaungi sore ini. Udara terasa sejuk. Matahari senja sedang melukis pelangi di ufuk barat sana hingga spektrumnya terpancar masuk ke dalam kamar seorang gadis. Membentuk sejuta hati yang gelisah, di rundung cemas di pagut kegelisahan yang kian menderu.

Namanya Alila. Tercatat sebagai mahasiswi disalah satu universitas Islam di Kota metropolitan itu. Ia adalah gadis yang sholehah, patuh kepada orang tua, takut terhadap Allah Swt dan cinta akan Nabi nya. Seorang makhluk yang hampir mencapai kesempurnaan dalam segi akademik dan religinya, dan juga pada fisiknya.

Alila, mempunyai wajah yang cantik nan teduh dengan mata yang bulat. Ia sangat pandai dalam berkomunikasi menggunakan bahasa inggris, fasih dalam membaca Al-Qur’an, sholat 5 kali di awal waktu, dan hobby nya adalah berpuasa di hari senin. 

Banyak para ikhwan yang berlomba ingin mendapatkan hati gadis ini. Ada yang langsung datang mengkhitbah kerumahnya, ada pula yang langsung mengutarakan dihadapannya secara langsung. Namun Alila bukanlah gadis yang mudah didapatkan. Sebagai mahasiswi yang sudah lulus S1 fakultas Pendidikan Agama Islam, Alila tentu mempunyai beberapa kriteria tentang ikhwan yang tepat untuk menjadi calon suaminya dan calon ayah dari anak-anaknya kelak.

Sudah banyak para ikhwan yang datang mengkhitbah, tapi semua ditolaknya. Karena banyak diantara para ikhwan itu yang cara membaca Al-Qur’annya tidak lancar. Mereka hanya mengandalkan modal kekayaan dan martabat semata untuk mendapatkan hati Alila. Orang tua Alila memberi kepercayaan dan kebebasan pada Alila untuk memilih calon suami seperti apa yang ia inginkan. Mereka tau, putri semata wayang mereka itu tentu tidak akan salah memilih pasangan hidup. 

Sampai pada suatu ketika, datang lima orang ikhwan yang datang bersamaan dengan maksud ingin mengkhitbah. Alila langsung menguji mereka dengan meminta mereka membaca Al-Qur’an langsung di hadapannya. Satu dari lima orang tersebut tidak lancar baca Al-Qur’an nya. Tersisa lah empat orang yang masih bertahan. 

Alila memberi ujian lagi kepada empat ikhwan tersebut. Ia meminta mereka untuk membaca tujuh surah secara lisan beserta artinya. Satu ikhwan tidak berhasil lolos dari ujian tersebut. Tersisalah tiga ikhwan yang masih bertahan.

Alila menyuruh mereka datang kembali esok hari dan menyuruh mereka membawakan sesuatu untuknya.
2 Esoknya, datanglah tiga ikhwan itu ke rumah Alila. Alila pun bertanya, apa yang mereka bawakan untukknya.

Ikhwan pertama menjawab sembari mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.  “Saya membawa kunci mobil ini. Mobil itu akan saya berikan pada ukhty Alila, jika ukhty mau menerima pinangan saya.”

Tampak tak ada reaksi apa-apa dari Alila mengenai jawaban sang ikhwan yang pertama. Lalu bertanyalah ia pada ikhwan yang kedua, dan ikhwan itu menjawab, “Saya membawakan kunci rumah baru ini. Rumah yang baru saya beli untuk saya persembahkan pada ukhty Alila.” 

Masih tak ada reaksi apa-apa dari Alila. Ia pun langsung bertanya pada ikhwan yang ketiga perihal apa yang ia bawakan untuknya. Ikhwan tersebut menjawab sembari mengeluarkan sebuah kantong plastik berwarna ungu muda. “Ini mukenah, untuk ukhty Alila. Saya tidak ingin ukhty meninggalkan sholat walaupun hanya satu waktu saja.” ujarnya.

Alila tersenyum mendengar jawaban dari ikhwan yang ketiga ini dan menerima pemberiannya. Alila pun menyuruh mereka pulang lagi kerumah masing-masing. Sebenarnya ia sudah yakin ingin memilih ikhwan yang ketiga. Akan tetapi biar lebih yakin dan bisa memantapkan hatinya, ia ingin memberi ujian lagi kepada mereka bertiga.  

Tiga hari kemudian, datanglah ketiga pemuda itu lagi ke rumah Alila. Kini masing-masing ikhwan di dampingi oleh orang tua mereka. Namun Alila tidak keluar, Ummi dan Abi nya yang keluar. Dengan wajah yang dipenuhi rasa kesedihan, Ummi Alila pun berkata pada mereka.

“Afwan, Alila sedang tidak bisa ditemui. Kemarin sore Alila mendapat musibah di jalan saat menuju pulang ke rumah. Kakinya patah dan Alila tidak bisa berjalan tanpa kursi roda..”

Mereka semua pun terkejut mendengar penuturan dari Ummi Alila ini. Dua ikhwan beserta orang tua mereka langsung pulang setelah mendengar bahwa kaki Alila patah dan tak bisa berjalan tanpa kursi roda. Sementara itu, ada satu ikhwan yang masih bersikukuh dan tidak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya.

Ummi Alila pun bingung melihat pemuda yang masih tak bergeming ini. Padahal ikhwan yang lain sudah pulang semua.

“Nak Fathan, masih ingin melanjutkan khitbah ini? Setelah tau bagaimana kondisi Alila sekarang?” tanya Ummi Alila.

“Ibu, bagaimana pun keadaan Alila, sehat atau pun sakit, susah atau pun senang, saya sudah dari awal berniat mengkhitbahnya. Saya mengkhitbahnya karena hati saya dituntun oleh Allah untuk menyukainya dari awal saya bertemu dengannya. Bukan karena fisiknya. Keyakinan saya terhadap rencana Allah Swt tidak akan goyah.” ikhwan itu menjawab dengan pasti.

Alila yang mendengar pembicaraan mereka dari dalam kamarnya, langsung mengucap syukur kepada Allah Swt. Ternyata masih ada lelaki yang mencintai seorang gadis bukan hanya karena fisik, tapi karena ketulusan hatinya. 

Alila pun langsung keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu. Fathan sangat terkejut melihat Alila yang sehat wal’afiat. Tak kurang suatu apapun, dan kakinya baik-baik saja. Alila duduk di antara kedua orang tuanya. 

“Nak Fathan, Alila sebenarnya tidak sakit atau pun kecelakaan. Dia sengaja berbuat seperti ini agar dia yakin, calon suami mana yang pantas menjadi pendamping dan imam nya kelak. Yang bisa menerima keadaannya apa adanya.” tutur Abi Alila.

Jelas rasa lega terbias di raut wajah Fathan dan kedua orang tuanya. Inilah hadiah terindah yang diberikan Allah kepada Fathan atas jerih payahnya mempertahankan keyakinannya pada Allah dan tak merubah keputusannya untuk tidak jadi mengkhitbah Alila.

Kini, ia mendapat manisnya hasil dari ujian dan penantiannya terhadap Alila. Gadis yang selama ini menjadi dambaan hati para ikhwan di kampus. Akhirnya ia yang mendapatkan Alila, karena ketulusan hatinya dan keyakinan akan janji-Nya, sang Maha membolak balikkan hati makhluk ciptaan-Nya.
Selesai

Karya: Devi Sarwani
@Fb: Ukhti Vivie @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara


Tidak ada komentar:

Posting Komentar