Sabtu, 27 Desember 2014

Cerpen Islami



Cerpen Islami

“Surat Cinta Untuk Anna”

Aku memikirkannya lagi. Disetiap aku memejamkan mata ini, hanya ada bayangnya yang melintas. Aku sudah berusaha menghalau bayangan wajahnya dari hati dan fikiran ini. Tapi tetap saja tidak bisa.

Apa yang harus aku lakukan? Apa ini yang namanya jatuh cinta?

Tidak! Aku rasa belum waktunya! Mungkin ini hanyalah rasa kagum sementara. Dua minggu lagi mungkin perasaan seperti ini akan hilang dengan sendirinya. 

Aku memasang headset di telingaku dan memejamkan mataku. Perlahan mengalunlah lagu Maher Zain yang berjudul “Freedom”. Aku sangat menyukai lagu ini. Karena lagu ini mengingatkan aku tentangnya. Pertama kali mendengar lagu ini, dia ada didepan mataku. Mungkin itulah alasan kenapa setiap kali aku mendengar lagu ini, aku teringat dia.

Tak berapa lama kemudian, aku seolah-olah sedang terlelap di ruang kelas yang suasananya sangat hening. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku.

“Hayoo...! Anna lagi ngapain sendirian dikelas? Dosen kan belum datang...!!” 

“Ihh...Vili, ngagetin aja!” sahutku dengan wajah cemberut.

“Ciee.. jangan merengut. Jelek tau! lagian mikirin apa sih? Aku perhatiin belakangan ini kamu sering ngelamun? Jangan-jangan kamu lagi mikirin seorang ikhwan yah? Hayo ngaku...!” 

Aku gelagapan. Bisa malu aku kalo Vili tau apa yang buat aku jadi sering ngelamun belakangan ini. 

“Emmhh gak kok. Aku lagi mikirin .....” belum selesai aku bicara, Vili langsung memotong.

“Ngaku aja. Cerita sama aku An...” ia mendesakku. Aku hanya bisa terdiam.

“Dengerin aku. Kalau kamu emang lagi mikirin seseorang, yang harus kamu rayu bukan orangnya. Tapi Dzat Penciptanya yang harus kamu rayu. Apa susahnya bagi Allah untuk membolak-balikkan hati manusia kalau Allah mengizinkan? Kamu gak perlu sampai kepikiran kayak gini. Selipkan namanya dalam bait-bait do’a mu.”

Vili memang sangat mengenal aku. Bagaimana ia bisa tau kalau yang sedang aku fikirkan saat ini adalah seorang ikhwan?

“Emm... itu... emm. Eh, aku belum tau judul apa yang harus aku kasih di cerpen yang harus aku kumpulin di klub menulis nanti. Temanya tentang seorang gadis yang sedang jatuh cinta, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.” jawabku sekenanya.

“Ohh jadi kamu lagi mikirin itu? Nanti aku bantuin mikirin judul apa yang tepat untuk cerpen itu. Ya udah sekarang kita sholat Dhuha dulu yuk, sekalian tilawah sebentar.” 

Vili menarik tanganku. Memang sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu mengingatkanku sholat Dhuha. Ia juga tidak pernah lupa mengajakku tilawah. Dia adalah sahabat terbaik yang aku punya.

Ketika kami sampai di masjid kampus, hatiku bergetar. Ada seorang ikhwan yang sedang duduk sembari memegang Al-Qur’an di tangannya. Astaghfirullah... aku mengucap dalam hati. Kenapa dia ada disini? Seketika aku menjadi gugup dan linglung sendiri. Tanpa sadar, ternyata Vili memperhatikan tingkahku.

“An, kenapa sih? Hayo... ngeliatin kak Rizky yah?”

Hupp! Dengan cepat aku menutup mulut Vili dengan tanganku. 

“Sssttt... jangan berisik Vili. Nanti dia dengar.” kataku sembari melepaskan tanganku yang menutupi mulutnya.

“Nah, sekarang ketahuan kan? Ternyata yang kamu fikirin belakangan ini tuh bukan cerpen yang harus kamu kumpulin di klub menulis, tapi dia kan?” Vili bertanya sambil menunjuk ke arah kak Rizky.

Tiba-tiba kulihat ikhwan itu sudah selesai mengaji dan menutup Al-Qur’annya. Ia melihat ke arahku dan Vili. Merah sudah pipiku. Jantungku serasa mau melompat keluar. Kurasakan telapak tanganku dingin. Ia berjalan ke arahku dan Vili. Jangan-jangan tadi ia mendengar pembicaraan aku dan Vili? Tamat sudah riwayatku....!!

“Ukhty berdua lagi ngapain disini? Sudah sholat Dhuha belum? Ayo sholat dulu.”

Aku tertunduk malu. Vili yang menjawab pertanyaannya.

“Iya kak Rizky, ini baru mau sholat.”

“Oh iya, Anna. Nanti ada pertemuan klub menulis di perpustakaan ba’da sholat dzuhur nanti. Jangan lupa ya. Kakak permisi dulu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam..” aku dan Vili menjawab salamnya bersamaan.

Ia tersenyum manis dan pergi. Itu barusan... apa dia bicara sama aku? Aku? Rasanya aku mau melompat kegirangan. Subhannallah... Selama ini dia tidak pernah bicara sepatah katapun padaku.

Aku pun sholat Dhuha dan tilawah dengan semangat. Rasanya sudah tidak sabar menunggu sholat Dzuhur. Dan ketika pertemuan klub menulis di perpustakaan itu dimulai, ia ada disana. Dia adalah ketua di klub menulis itu. Aku adalah anggotanya. Ia lebih tua dua tahun dariku. Sudah ada 17 buku hasil karangannya yang terbit. Itu salah satu yang membuatku sangat mengaguminya. Selain aku, banyak juga akhwat yang suka padanya. Aku tau hal itu karena beberapa kali mendengar para akhwat membicarakan tentangnya. 

Aku pun menyerahkan cerpen karanganku padanya, yang berjudul “Namamu Dalam Bait-Bait Doaku”. Aku tertunduk malu. Anggota lain juga sudah mengumpulkan cerpen karangan mereka masing-masing yang sama temanya. 

“Cerpen yang kalian karang, akan kakak baca dirumah nanti. Pertemuan selesai. Kalian boleh balik ke kelas masing-masing. Kakak juga sudah ditunggu dosen dikelas. Kita akhiri dengan melafadzkan hamdalah.”

“Alhamdulillahirobbil alamin....” 
 
“Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..”

Ia menutup pertemuan itu dengan salam, dan kami semua menjawabnya dengan salam pula. Tapi saat itu ada yang sedang mengganjal dihatiku. Ketika anggota lain sudah keluar semua, ia masih duduk di bangkunya. Setelah selesai membereskan buku-bukuku, aku pun beranjak dari tempat dudukku. Baru dua langkah aku melangkah, tiba-tiba aku mendengar ia memanggil.

“Anna..”

Aku menoleh ke belakang.

“Ya kak...?” 

Aku mulai gugup lagi. Ia berjalan semakin dekat ke arahku, dan menyerahkan sebuah amplop berwarna biru muda padaku. Aku menerima amplop itu.

“Ini apa kak?” tanyaku heran.

“Dibaca aja. Kakak duluan yah. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” 

Ia langsung beranjak pergi. Aku masih tidak percaya, barusan ia bicara sama aku lagi? Aku masih tak beranjak dari tempatku berdiri. Bergetar aku memegang surat berwarna biru itu. Haruskah aku membacanya sekarang? Aku penasaran. Tapi aku juga ragu untuk membukanya. Maka aku pun memberanikan diri untuk membuka surat itu dan membacanya di ruang perpustakaan itu, sendirian. 
Dan isinya adalah: 

 “Bissmillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Ukhtifillah, jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh,
Karena itu akan membuatku mengingatmu..
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu..
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku menginginkanmu sepenuh hati, sepenuh jiwa.
Kasihan dirimu jika harus hadir dalam khayalku..
Ukhtifillah, berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung..
Ada ingin tapi tak ada henti..
Menyentuhmu merupakan ingin diri, meski sehelai ujung kerudungmu pun tak berani ku sentuh..
Namun didalam bait-bait doaku selalu ku selipkan namamu, Anna Annisa...
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah..
Aku tidak akan mengotori rasa cinta ini dengan melakukan hal yang tidak bermanfaat...
Mengkhitbahmu besok pun aku siap,  karena itu jalan terbaik untuk membuat semuanya menjadi halal..
Akan aku simpan perasaan ini dan aku serahkan semuanya pada-Nya....
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.....”

Deg! Terhempas aku dibangkuku. Ini surat darinya. Apa dia benar-benar menulis ini dengan tangannya sendiri? Sungguh indah tiap kata-kata yang di rangkainya dalam surat itu. Aku pun memeluk surat itu. Cintaku berbalas. Sungguh aku tidak pernah berfikir sejauh ini. Ini seperti mimpi bagiku.

Akhirnya, tiga hari setelah menerima surat darinya. Aku pun membalas surat itu. Aku mencarinya ke masjid kampus, dan ternyata dia memang sedang berada disana. Seperti biasa, setiap pagi ia selalu disini. Ia sedang tilawah.

Aku pun menghampirinya dan tak lupa menghaturkan salam padanya. Ia membalas salamku. Segera saja aku berikan surat bersampul warna pink itu padanya. Ia tertunduk. Aku juga. Kami tak berani saling memandang, karena takut akan zina mata dan zina hati. Aku pun segera berlalu meninggalkannya setelah mengucapkan salam.

Ku lihat dari kejauhan, ia membuka suratku. Semalaman aku berusaha merangkai kata-kata yang pas ku ucapkan sebagai seorang muslimah. Aku tidak ingin ada kata-kata yang bisa salah diartikan olehnya. Surat yang ku tulis itu berbunyi seperti ini:

“Bissmilahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Akhifillah.. Entah angin apa yang membuatku begitu berani mencoretkan sesuatu untuk dirimu..
Sungguh aku sangat senang ternyata sebenarnya kamu juga memperhatikanku..
Apalagi bagiku, kamu adalah ikhwan yang dewasa, sholeh, cerdas dan kharismatik..
Padahal aku belum mampu berhijab secara baik..
Karena itu, masing-masing diri kita harus menundukkan pandangan kita..
Bukankah akan lebih baik bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahi oleh-Nya?
Bukankah lebih membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhoi oleh-Nya?
Tunggulah aku meraih gelar sarjanaku, baru setelah itu kamu boleh mengkhitbahku..
Aku percaya, pilihan-Nya adalah yang terbaik..
Jalan-Nya adalah jalan yang terbaik..
Namamu juga selalu ku sebut dalam tiap-tiap bait doaku..
Dari orang yang selalu merindukan cahaya mu...
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..”

Kini aku bisa bernafas dengan lega. Lega karena ternyata cintaku terbalas. Konsentrasi dengan kuliahku adalah hal yang harus aku lakukan sekarang. Kini, aku dan dia tak perlu bersusah hati untuk saling mencari tau tentang perasaan masing-masing, karena semuanya sudah tertera jelas dalam surat itu. Aku dan dia hanya perlu saling menjaga dan bersabar menunggu hari itu. Hari dimana aku dan dia akan disatukan dalam sebuah ikatan yang diridhoi oleh-Nya.
Selesai

Karya: Devi Sarwani
@Fb: Ukhti Vivie @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar