Cerpen Islami
“Tak
Kenal Maka Ta’aruf”
Kini aku hanya bisa merenungi semua kejadian itu
lewat celah-celah jendela dihadapanku. Air mataku sudah tak terbendung. Rasa hati
yang bercampur aduk. Disatu sisi, aku merasa bahagia. Disatu sisi, aku merasa
sedih dan kesepian. Kelima sahabatku sudah menikah. Dan tepat sebulan yang
lalu, sahabat yang paling dekat denganku juga telah bersanding. Aku dan kelima
sahabatku ini sama-sama masih kuliah. Tapi tidak satu kampus.
Aku bahagia, karena mereka telah menemukan
pasangan hidup mereka dengan jalannya masing-masing. Keempat sahabatku yang
lain, menikah dengan cara berpacaran terlebih dahulu. Sedangkan sahabat yang
paling dekat denganku ini, Olifia. Dia menikah dengan cara berta’aruf. Dia
dijodohkan dengan seorang lelaki pilihan orang tuanya.
Dua minggu yang lalu, aku sempat bertemu dengan
Olif setelah ia pulang dari berbulan madu. Kulihat raut wajahnya yang jelas
menggambarkan bahwa ia sangat bahagia. Aku mengajaknya makan siang bersama
setelah aku pulang dari kampus. Obrolan kami pun terasa sangat santai, sampai
saat aku bertanya sesuatu padanya yang membuatnya terdiam sejenak.
“Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu, Olif?”
Ia terdiam, perlahan tersenyum dan akhirnya
tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa kamu nanyanya kayak gitu? Kedengarannya
aneh tau..”
“Yaa... teman-teman kita yang lain kan menikah
dengan cara pacaran dulu. Tapi kamu, beda. Kamu menikah dengan seorang lelaki
yang baru kamu kenal sehari, setelah itu langsung memutuskan untuk menikah..?”
aku pun mendadak kepo.
“Azizah, sekarang aku yang mau nanya sama kamu.
Kamu pernah pacaran?”
Aku bingung. Kenapa Olif bertanya seperti itu?
“Yaa gak pernah lah Lif, kamu kan tau sendiri.
Dari dulu aku gak pernah punya pacar.”
“Nah, terus apa bedanya? Saat ini kamu gak punya
pacar kan? Berarti nanti kalo kamu mau nikah, caranya sama dengan cara aku.
Ta’aruf.” ia berkata dengan nada yang sungguh-sungguh.
“Tentu saja aku bahagia dengan pernikahan ini.
Bayangkan saja, aku menikah dengan lelaki pilihan kedua orang tuaku. Tentu saja
lelaki itu bukanlah lelaki yang sembarangan. Aku juga tidak perlu berpacaran
seperti teman-teman kita yang lain. Kamu tau kan? Memandang yang bukan mahram
saja udah dosa. Apalagi pacaran?” lanjutnya lagi.
Aku tertegun mendengarnya bicara. Lalu aku
bertanya lagi.
“Tapi kan kamu dan suamimu gak saling kenal, Olif.
Bagaimana kamu bisa tau sifat asli dalam diri suamimu itu?”
“Justru itu. Tak kenal maka Ta’aruf.” jawabnya sembari
tertawa.
“Kita baru akan berhak sepenuhnya mengenal
sedalam-dalamnya tentang suami kita, ketika kita sudah halal untuknya.” lanjutnya
lagi dengan santai.
Sepulang dari acara makan siang itu, aku jadi
lebih banyak melamun dirumah. Saat itu aku sedang duduk didepan jendela
kamarku, tiba-tiba Ummi datang menghampiri.
“Azizah, kamu lagi mikirin apa nak?” tanya Ummi.
“Emm bukan apa-apa Ummi.” aku berusaha menutupi
fikiranku.
“Oh iya. Ummi mau nanya. Nanti malam kamu ada
acara pengajian di masjid ?”
“Gak ada Ummi. Acara pengajian di masjid kan
setiap malam rabu dan malam jum’at. Ada apa Ummi?” tanyaku sembari memeluk
lututku.
“Ahh, tidak ada apa-apa. Ummi keluar dulu ya.”
Ummi pun beranjak keluar dari kamarku. Aku bingung.
Sikap Ummi tidak seperti biasanya.
Malamnya, aku baru saja selesai tilawah dan sholat
maghrib. Tiba-tiba aku mendengar Ummi memanggil namaku. Baru aku mau keluar
dari kamar, Ummi langsung masuk duluan ke kamarku. Aku pun bertanya.
“Ada apa Ummi?”
“Itu... ada teman Abi mu yang datang. Kamu keluar
ya. Rapikan jilbabmu. Ummi mau menyiapkan minuman dulu.” kata Ummi sambil
senyum-senyum.
Ummi kenapa ya? Pikirku. Aku pun langsung
merapikan jilbabku dan keluar dari kamar menuju ke dapur.
“Ummi, sini biar Azizah yang bawain minumannya.” kataku
sembari membawa nampan berisi teh hangat itu keruang tamu. Setelah aku menaruh
minuman itu di atas meja ruang tamu, aku pun memberanikan diri melihat ke
depan. Agak kaget rasanya setelah aku melihat siapa yang duduk di ruang tamu
itu. Ada Olif dan suaminya. Juga ada sepasang suami istri yang kira-kira
umurnya sebaya dengan orang tuaku, disebelahnya duduk seorang lelaki yang masih
muda.
“Azizah, duduk sini nak.”
Abi menyuruhku duduk disebelahnya. Aku pun duduk
ditengah Abi dan Ummi.
“Ini sahabat lama Abi, nak. Namanya Kyai Abdul
Ghofar, teman SD Abi dulu. Yang itu istrinya, juga teman Abi waktu SD.” Abi memperkenalkan
aku kepada sepasang suami istri yang sudah setengah baya itu. Aku pun menyalami
mereka dengan wajah yang tertunduk karena malu.
“Nah... yang ini anak semata wayang kami. Namanya
Farid Atallah. Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Kairo, Universitas
Al-Azhar.” tutur Kyai Abdul Ghofar.
Setelah diperkenalkan seperti itu, lelaki itu
tertunduk. Entah apa yang di fikirkannya. Kulihat Olif dan suaminya
senyum-senyum ke arahku. Ada apa ini? Aku jadi merasa tidak enak.
“Jadi begini, nak Azizah. Kedatangan kami kemari,
kami bermaksud untuk mengkhitbah nak Azizah menjadi menantu kami. Kami sudah
mendengar banyak tentang nak Azizah dari Dahlan, suaminya Olifia ini.” kini
istri Kyai Abdul Ghofar yang menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang
kerumah.
Wajahku memerah. Bagaimana suaminya Olif kenal
dengan lelaki yang bernama Farid itu? bukannya Kyai Abdul Ghofar itu temannya
Abi ku? Melihat wajahku yang dirundung dengan seribu tanda tanya, suami Olif
pun tersenyum dan menjelaskan semuanya padaku.
“Jadi gini Azizah. Farid ini adalah sahabatku di
Kairo. Kami satu kampus disana. Setelah wisuda enam bulan yang lalu, aku dan
dia sama-sama pulang ke Indonesia. Ketika pulang, aku langsung meminang
sahabatmu ini, Olifia. Melihat Farid yang belum juga mengkhitbah seorang
akhwat, aku jadi teringat padamu yang tahun depan juga wisuda. Ya sudah, aku
ceritakanlah semua tentang dirimu itu pada orang tuanya Farid. Aku banyak
mendengar ceritamu itu juga dari sahabatmu ini, si Olif. Dan ternyata, Ayahnya
Farid ini adalah sahabat lama Abi mu. Langsung saja Kyai Abdul Ghofar ini
setuju untuk mengkhitbahmu dan datang kemari.” tuturnya sembari tertawa
terkekeh.
Kulihat Olif hanya tersenyum simpul melihatku yang
salah tingkah. Jadi begitu ceritanya. Aku pun hanya bisa tertunduk malu. Tak berani
memandang wajah tampan dan mata yang teduh itu di hadapanku. Semua orang yang
duduk di ruang tamu itu pun tersenyum dan Abi langsung menyimpulkan.
“Nah, kalau sudah si ikhwan dan akhwat saling
menunduk dan wajah mereka sama-sama merah seperti ini, tandanya dua-duanya
sudah setuju. Iya kan?”
Yang lain pun serentak menjawab.
“Itu benar.......”
Selepas dari malam itu, seminggu kemudian acara
pertunanganku dengan Farid pun berlangsung. Sebulan kemudian, tergelar juga lah
acara walimahnya. Acara ijab kabul pernikahan kami diadakan di Masjid Raya
Mujahidin dan acara walimahnya berlangsung di gedung pernikahan yang sudah
dipesan oleh pihak keluarga kami dua minggu sebelum acara resepsi.
Aku bahagia. Pada awalnya, aku mengira pernikahan
yang terjadi dengan cara bertemu sebentar dan langsung menikah itu tidak akan
sebahagia ini. Aku merasa ini adalah kebahagiaan yang sempurna. Aku mengenal lebih
dalam tentang suamiku setelah kami menikah. Aku berpacaran dengan suamiku
setelah aku menjadi halal untuknya. Dan seiring berjalannya waktu, cinta itu
tumbuh dengan jalan yang diridhoi oleh-Nya, sang Maha Cinta.
Selesai
Karya: Devi Sarwani
@Fb: Devi Sarwani @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan
membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar