Cerpen Islami
“KEKASIH
HALALKU”
Aku jatuh cinta....
Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu di aula
kampus, saat acara buka puasa bersama empat tahun yang lalu. Dia kakak kelas ku
di kampus, dengan fakultas yang sama denganku. Namanya Faiz Assahib Rahmat. Dia
orang yang sangat baik. Dia juga telah menyelesaikan S1 nya, dan sedang
berjuang meraih gelar Master.
Namaku Syifa Sauqiya. Anak semata wayang dari Ibu
Hj. Ainun Mahya dan Kyai Hj. Dzakir Khafadi. Aku kuliah di salah
satu Universitas Islam di kota tempatku lahir dan juga dibesarkan. Aku telah
berhasil menyelesaikan S1, dan juga sedang berjuang meraih gelar Master, sama
seperti mas Faiz. Tapi tentu saja tingkatannya lebih tinggi dariku.
Sejauh ini, aku hanya bisa memendam perasaan ini
di dalam hati. Tidak mungkin aku mengungkapkannya secara langsung di
hadapannya. Cukup aku dan Allah yang tau. Aku tidak merasa khawatir, atau
terus-menerus memikirkannya. Aku percaya, jika Allah berkehendak, semuanya
pasti bisa saja terjadi. Karena Allah adalah yang Maha membolak-balikkan hati
manusia.
Empat tahun itu, aku berjuang menahan diriku. Aku
menahan diriku agar rasa cintaku pada mas Faiz, tidak melebihi rasa cintaku
pada-Nya, Allah Swt. Aku tidak ingin rasa cinta ini membuat aku memaksakan
kehendak takdir. Yang ku lakukan hanyalah berdo’a, memantaskan diri, dan
berikhtiar menunggu datangnya suatu keajaiban. Yaitu aku ingin menjadi
kekasih halalnya.
Tapi sore itu, aku di kejutkan oleh berita yang
membuat fikiran ku sedikit terganggu. Aku baru saja pulang kuliah. Abi dan Ummi
langsung mengajakku bicara. Mereka bilang, tadi siang ada seorang ikhwan yang
datang kerumah dengan maksud ingin mengkhitbahku. Aku bingung, dan tidak bisa
berkata apa-apa.
Seketika anganku melayang pada mas Faiz. Bagaimana
ini? Orang yang ku cintai selama ini adalah mas Faiz. Tapi kini, ada lagi
seorang ikhwan yang datang mengkhitbah. Aku bahkan tidak tau siapa dia. Aku
tidak bertanya pada Ummi dan Abi. Fikiran ku terlalu kacau. Tugas kuliah juga
banyak yang belum terselesaikan.
Sementara itu, selama ini Ummi juga sudah sering
mengingatkanku. “Ingat nak, umur mu sudah bukan remaja lagi. Kamu juga sudah
menyelesaikan S1 mu kan? Jadi apa salahnya kalau nanti ada yang mengkhitbah mu
lagi, kamu terima saja. Sudah ada enam ikhwan yang kamu tolak, nak. Abi dan
Ummi merasa tidak enak hati.”
Ya, sudah ada enam ikhwan yang datang ke rumah.
Tapi aku tolak semua dengan alasan aku masih ingin berkonsentrasi penuh pada
kuliah ku. Aku terus berikhtiar dan bertasbih untuk menenangkan fikiranku.
Akhirnya setelah berfikir dengan matang selama lima hari dan juga
sudah menjalankan sholat istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah, aku pun
menerima lamaran ikhwan yang ke tujuh ini tanpa lebih dulu melihat wajahnya.
Aku pasrah. Mungkin dia yang Allah pilihkan untuk menjadi kekasih halalku.
Dan terlaksanalah acara pertunanganku dengannya
malam itu. Ia datang ke rumah bersama kedua orang tua dan beberapa kerabatnya.
Hari itu, menit dan detik itu lah aku baru mengetahui bahwa yang mengkhitbah ku
itu adalah lelaki yang selama ini selalu ku sebut-sebut dalam do’a ku. Mas
Faiz.
Subhannallah.... refleks langsung terucap rasa
syukur dari bibir ku. Bagaimana ini bisa terjadi? Hanya Allah lah yang tau. Saat
itu, aku hanya merasa bahwa Allah telah menjawab semua do’a-do’a ku. Aku
bahagia. Sangat bahagia. Mas Faiz tersenyum melihat wajah ku yang masih bingung
melihatnya seolah-olah malam itu kurasakan bagai mimpi. Malam itu juga telah
melingkar di jari manis ku sebuah cincin yang sangat indah. Ummi mas Faiz
sendiri yang memasangkannya di jari ku.
Singkat cerita, prosesi akad nikah dan resepsi pun
telah terlaksana. Acaranya di langsungkan di apartemen milik mas Faiz sendiri. Bahagia?
Itu sudah pasti. Bahagia yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Mas Faiz
pun tampak sangat bahagia. Senyum nya tak pernah hilang menghiasi wajah nya
yang sangat tampan. Bagiku, dia adalah seorang lelaki yang sangat manis, di
tambah dua lesung pipit di pipi nya. Sempurna.
Selesai sudah acara resepsi. Kurasakan tubuh ku
sangat lelah sekali, mungkin mas Faiz juga merasakan hal yang sama. Aku
memasuki kamar pengantin kami. Ku nyalakan lampu nya, dan seketika suasana yang
tadinya gelap, berganti dengan pemandangan yang sangat indah, dengan
hiasan-hiasan dan bunga-bunga yang sangat harum. Semuanya berwarna putih.
Benar-benar kamar yang sangat indah.
Mas Faiz masih di ruang acara resepsi, sedang
berbincang-bincang dengan beberapa kerabat yang masih bersantai di ruangan itu.
Keluarga ku dan keluarga nya, semuanya menginap di apartemen miliknya malam
ini.
***
Aku dan mas Faiz telah selesai melaksanakan sholat
Isya dan sholat Sunnah. Tiba-tiba mas Faiz mengajakku ke balkon. Posisi balkon
nya sangat strategis. Tepat menghadap ke pusat kota. Dari ketinggian tujuh
lantai, kami bisa menikmati indahnya lampu-lampu bangunan yang
berkerlap-kerlip, jalanan kota yang masih belum sepi, dan juga gedung-gedung
tinggi pencakar langit yang berdiri dengan kokohnya. Pemandangan yang sangat
indah.
Kami duduk berdua di sebuah kursi panjang. Aku
sangat canggung dan salah tingkah saat berada di dekatnya. Sepertinya ia juga
merasakan hal yang sama. Ku lihat dia meminum minuman yang telah ku buat
spesial untuknya.
“Kenapa teh nya rasanya asin ya? Asin
sekali.” ungkapnya pelan.
“Be.. benarkah?”
tanyaku kaget.
“Iya, coba kamu rasakan.”
katanya sembari memberikan gelas teh nya padaku.
“Ini manis mas. Tidak asin sama
sekali.” kataku.
Ia pun mencicipinya sekali lagi.
“Syifaku sayang, ini asin. Cobalah
sekali lagi.”
Aku menuruti kata-katanya dan mencicipi lagi teh yang
kubuat itu.
“Tidak, mas. Ini manis. Tidak asin
sama sekali.” kataku tegas.
“Benarkah? Biar aku coba lagi.”
Ia pun meneguk lagi teh itu.
“Hmm.. awalnya teh ini rasanya asin.
Tapi, setelah kamu mencicipinya dua kali, minuman ini jadi manis sekali. Belum
pernah aku minum minuman semanis ini.”
“Ah mas Faiz, mengerjaiku yah...!”
seruku sembari mencubit lengannya, manja.
Suasana tegang pun seketika menjadi cair dan
romantis. Tidak ada rasa canggung lagi di antara aku dan mas Faiz. Aku
menyandarkan kepala ku di pundak mas Faiz. Di langit sana, bintang-bintang
tampak bekerlap-kerlip, menyaksikan dua insan yang sedang di landa rasa
bahagia.
Beginikah rasanya pacaran setelah menikah? Sudah
boleh melakukan apa saja yang di inginkan karena sudah halal. Dan lebih
beruntungnya lagi bagi pasangan yang sudah halal, melakukan apa saja sudah
terhitung pahala.
“Jam berapa sekarang, sayang?”
tanya nya padaku.
Ku lirik jam yang melingkar di tanganku. “Jam
sebelas, mas.”
“Sudah malam. Kita masuk yuk.”
katanya sembari menarik tanganku masuk ke dalam dan mengunci pintu balkon.
Kami duduk di tepi ranjang. Mas Faiz membaca
basmalah dan memegang ubun-ubun kepala ku dengan penuh rasa sayang. Segelintir
do’a yang telah di ajarkan Baginda Nabi pun terdengar dari mulutnya.
“Allaahumma, inni asaluka min khairiha
wa khairi ma jabaltaha, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha...”
Aku memejamkan kedua mataku, sembari mengucapkan amin..
amin..amin. Ia melanjutkan kembali do’a nya.
“Baarakallaahu likulli waahidin minna
fi shaahibihi.”
Lalu ia mencium keningku. Itu adalah sebuah ciuman
terindah yang pertama ku rasakan dari seorang lelaki yang sangat ku cintai. Aku
terus mengucapkan amin.. amin..amin. Dan malam itu, kami pun memasuki malam
zafaf dengan penuh rasa bahagia dan barokah tentunya.
Yang lebih melengkapi kebahagiaanku adalah, enam
bulan setelah pernikahanku dengan mas Faiz, kami di karuniai jabang bayi yang
tumbuh dalam rahim ku. Aku sangat bahagia. Mas Faiz juga sangat bahagia.
Sungguh kebahagiaan yang sangat tak ternilai harganya.
Aku menganggap semua itu adalah buah manis sebagai
hadiah yang diberikan Allah atas ikhtiar ku pada-Nya selama ini. Mas Faiz
semakin cinta padaku, dan aku juga sangat mencintainya. Dialah kekasih
halalku.
*Selesai*
Karya: Devi Sarwani
Karya: Devi Sarwani
@Fb: Devi Andriawan @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan
membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar