Selasa, 14 Oktober 2014

Cerpen Islami



Cerpen Islami
“KEKASIH HALALKU”
     Aku jatuh cinta....

     Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu di aula kampus, saat acara buka puasa bersama empat tahun yang lalu. Dia kakak kelas ku di kampus, dengan fakultas yang sama denganku. Namanya Faiz Assahib Rahmat. Dia orang yang sangat baik. Dia juga telah menyelesaikan S1 nya, dan sedang berjuang meraih gelar Master.

     Namaku Syifa Sauqiya. Anak semata wayang dari Ibu Hj. Ainun Mahya dan Kyai Hj. Dzakir Khafadi. Aku kuliah di salah satu Universitas Islam di kota tempatku lahir dan juga dibesarkan. Aku telah berhasil menyelesaikan S1, dan juga sedang berjuang meraih gelar Master, sama seperti mas Faiz. Tapi tentu saja tingkatannya lebih tinggi dariku.

     Sejauh ini, aku hanya bisa memendam perasaan ini di dalam hati. Tidak mungkin aku mengungkapkannya secara langsung di hadapannya. Cukup aku dan Allah yang tau. Aku tidak merasa khawatir, atau terus-menerus memikirkannya. Aku percaya, jika Allah berkehendak, semuanya pasti bisa saja terjadi. Karena Allah adalah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

     Empat tahun itu, aku berjuang menahan diriku. Aku menahan diriku agar rasa cintaku pada mas Faiz, tidak melebihi rasa cintaku pada-Nya, Allah Swt. Aku tidak ingin rasa cinta ini membuat aku memaksakan kehendak takdir. Yang ku lakukan hanyalah berdo’a, memantaskan diri, dan berikhtiar menunggu datangnya suatu keajaiban. Yaitu aku ingin menjadi kekasih halalnya.

     Tapi sore itu, aku di kejutkan oleh berita yang membuat fikiran ku sedikit terganggu. Aku baru saja pulang kuliah. Abi dan Ummi langsung mengajakku bicara. Mereka bilang, tadi siang ada seorang ikhwan yang datang kerumah dengan maksud ingin mengkhitbahku. Aku bingung, dan tidak bisa berkata apa-apa. 

     Seketika anganku melayang pada mas Faiz. Bagaimana ini? Orang yang ku cintai selama ini adalah mas Faiz. Tapi kini, ada lagi seorang ikhwan yang datang mengkhitbah. Aku bahkan tidak tau siapa dia. Aku tidak bertanya pada Ummi dan Abi. Fikiran ku terlalu kacau. Tugas kuliah juga banyak yang belum terselesaikan.

     Sementara itu, selama ini Ummi juga sudah sering mengingatkanku. “Ingat nak, umur mu sudah bukan remaja lagi. Kamu juga sudah menyelesaikan S1 mu kan? Jadi apa salahnya kalau nanti ada yang mengkhitbah mu lagi, kamu terima saja. Sudah ada enam ikhwan yang kamu tolak, nak. Abi dan Ummi merasa tidak enak hati.”

     Ya, sudah ada enam ikhwan yang datang ke rumah. Tapi aku tolak semua dengan alasan aku masih ingin berkonsentrasi penuh pada kuliah ku. Aku terus berikhtiar dan bertasbih untuk menenangkan fikiranku. 

     Akhirnya setelah berfikir dengan matang selama lima hari dan juga sudah menjalankan sholat istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah, aku pun menerima lamaran ikhwan yang ke tujuh ini tanpa lebih dulu melihat wajahnya. Aku pasrah. Mungkin dia yang Allah pilihkan untuk menjadi kekasih halalku.

     Dan terlaksanalah acara pertunanganku dengannya malam itu. Ia datang ke rumah bersama kedua orang tua dan beberapa kerabatnya. Hari itu, menit dan detik itu lah aku baru mengetahui bahwa yang mengkhitbah ku itu adalah lelaki yang selama ini selalu ku sebut-sebut dalam do’a ku. Mas Faiz. 

     Subhannallah.... refleks langsung terucap rasa syukur dari bibir ku. Bagaimana ini bisa terjadi? Hanya Allah lah yang tau. Saat itu, aku hanya merasa bahwa Allah telah menjawab semua do’a-do’a ku. Aku bahagia. Sangat bahagia. Mas Faiz tersenyum melihat wajah ku yang masih bingung melihatnya seolah-olah malam itu kurasakan bagai mimpi. Malam itu juga telah melingkar di jari manis ku sebuah cincin yang sangat indah. Ummi mas Faiz sendiri yang memasangkannya di jari ku.

     Singkat cerita, prosesi akad nikah dan resepsi pun telah terlaksana. Acaranya di langsungkan di apartemen milik mas Faiz sendiri. Bahagia? Itu sudah pasti. Bahagia yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Mas Faiz pun tampak sangat bahagia. Senyum nya tak pernah hilang menghiasi wajah nya yang sangat tampan. Bagiku, dia adalah seorang lelaki yang sangat manis, di tambah dua lesung pipit di pipi nya. Sempurna.

     Selesai sudah acara resepsi. Kurasakan tubuh ku sangat lelah sekali, mungkin mas Faiz juga merasakan hal yang sama. Aku memasuki kamar pengantin kami. Ku nyalakan lampu nya, dan seketika suasana yang tadinya gelap, berganti dengan pemandangan yang sangat indah, dengan hiasan-hiasan dan bunga-bunga yang sangat harum. Semuanya berwarna putih. Benar-benar kamar yang sangat indah. 

     Mas Faiz masih di ruang acara resepsi, sedang berbincang-bincang dengan beberapa kerabat yang masih bersantai di ruangan itu. Keluarga ku dan keluarga nya, semuanya menginap di apartemen miliknya malam ini.
***
     Aku dan mas Faiz telah selesai melaksanakan sholat Isya dan sholat Sunnah. Tiba-tiba mas Faiz mengajakku ke balkon. Posisi balkon nya sangat strategis. Tepat menghadap ke pusat kota. Dari ketinggian tujuh lantai, kami bisa menikmati indahnya lampu-lampu bangunan yang berkerlap-kerlip, jalanan kota yang masih belum sepi, dan juga gedung-gedung tinggi pencakar langit yang berdiri dengan kokohnya. Pemandangan yang sangat indah.

     Kami duduk berdua di sebuah kursi panjang. Aku sangat canggung dan salah tingkah saat berada di dekatnya. Sepertinya ia juga merasakan hal yang sama. Ku lihat dia meminum minuman yang telah ku buat spesial untuknya. 

     “Kenapa teh nya rasanya asin ya? Asin sekali.” ungkapnya pelan.

     “Be.. benarkah?” tanyaku kaget.

     “Iya, coba kamu rasakan.” katanya sembari memberikan gelas teh nya padaku.

     “Ini manis mas. Tidak asin sama sekali.” kataku.

     Ia pun mencicipinya sekali lagi. 

     “Syifaku sayang, ini asin. Cobalah sekali lagi.” 

     Aku menuruti kata-katanya dan mencicipi lagi teh yang kubuat itu.

     “Tidak, mas. Ini manis. Tidak asin sama sekali.” kataku tegas.

     “Benarkah? Biar aku coba lagi.” Ia pun meneguk lagi teh itu.
 
     “Hmm.. awalnya teh ini rasanya asin. Tapi, setelah kamu mencicipinya dua kali, minuman ini jadi manis sekali. Belum pernah aku minum minuman semanis ini.”

     “Ah mas Faiz, mengerjaiku yah...!” seruku sembari mencubit lengannya, manja.

     Suasana tegang pun seketika menjadi cair dan romantis. Tidak ada rasa canggung lagi di antara aku dan mas Faiz. Aku menyandarkan kepala ku di pundak mas Faiz. Di langit sana, bintang-bintang tampak bekerlap-kerlip, menyaksikan dua insan yang sedang di landa rasa bahagia.

     Beginikah rasanya pacaran setelah menikah? Sudah boleh melakukan apa saja yang di inginkan karena sudah halal. Dan lebih beruntungnya lagi bagi pasangan yang sudah halal, melakukan apa saja sudah terhitung pahala.

     “Jam berapa sekarang, sayang?” tanya nya padaku.

     Ku lirik jam yang melingkar di tanganku. “Jam sebelas, mas.”

     “Sudah malam. Kita masuk yuk.” katanya sembari menarik tanganku masuk ke dalam dan mengunci pintu balkon.

     Kami duduk di tepi ranjang. Mas Faiz membaca basmalah dan memegang ubun-ubun kepala ku dengan penuh rasa sayang. Segelintir do’a yang telah di ajarkan Baginda Nabi pun terdengar dari mulutnya.

     “Allaahumma, inni asaluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha...”

     Aku memejamkan kedua mataku, sembari mengucapkan amin.. amin..amin. Ia melanjutkan kembali do’a nya.

     “Baarakallaahu likulli waahidin minna fi shaahibihi.”
  
     Lalu ia mencium keningku. Itu adalah sebuah ciuman terindah yang pertama ku rasakan dari seorang lelaki yang sangat ku cintai. Aku terus mengucapkan amin.. amin..amin. Dan malam itu, kami pun memasuki malam zafaf dengan penuh rasa bahagia dan barokah tentunya.
 
     Yang lebih melengkapi kebahagiaanku adalah, enam bulan setelah pernikahanku dengan mas Faiz, kami di karuniai jabang bayi yang tumbuh dalam rahim ku. Aku sangat bahagia. Mas Faiz juga sangat bahagia. Sungguh kebahagiaan yang sangat tak ternilai harganya. 

     Aku menganggap semua itu adalah buah manis sebagai hadiah yang diberikan Allah atas ikhtiar ku pada-Nya selama ini. Mas Faiz semakin cinta padaku, dan aku juga sangat mencintainya. Dialah kekasih halalku.
*Selesai*




Karya: Devi Sarwani
@Fb: Devi Andriawan @Twitter: DeviSarwani
Hobby: Menulis cerita, mendengarkan musik dan membaca buku
School: SMKN 8 Pontianak Utara
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar